Berita

ilustrasi/net

Nawacita Omong Kosong Bila Pemerintah Terus Bebani Rakyat

SELASA, 16 JUNI 2015 | 10:28 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Dalam konteks penerapan harga bahan bakar minyak (BBM) berbasis pasar, memang per hari ini tidak dapat dilakukan karena akan berlawanan dengan UU yang ada.

Demikian disampaikan Ketua Umum Organisasi Kesejahetaraan Rakyat (Orkesta), Poempida Hidayatulloh. Dan Poempida mengingatkan, bagaimana pun juga pemerintah harus bertanggungjawab untuk memberikan subsidi sebagai bantal ekonomi dan sosialnya.

"Saat ini bantal ekonomi dan sosial sama sekali tidak ada. Kalau pun sudah direncanakan entah kenapa belum berjalan. Jika Pemerintah tetap mendorong kebijakannya yang memang membebani rakyat ya jelas Nawa Cita yang digembar-gemborkan hanya berbasis omongan saja," ungkap Poempida dalam keterangan beberapa saat lalu (Selasa, 16/6).


Pernyataan Poempida ini sekaligus menanggapi pernyataan ekonom Faisal Basri, yang mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi bisa dikatakan lebih berpandangan neoliberal dibanding pendahulunya, SBY. Salah satu indikasi, Jokowi menerapkan sepenuhnya harga jual bahan bakar minyak (BBM) dengan mengikuti mekanisme harga minyak mentah di pasaran internasional.

Menurut Poempida, prinsip dalam tata niaga BBM harus memberikan asumsi kepastian sehingga para pelaku ekonomi mempunyai kemampuan fleksibilitas until menyesuaikan. Dan kika kebijakan dilakukan dengan berbasis asumsi dan formula yang tidak transparan maka jelas ini menyulitkan bagi para pelaku ekonomi.

"Terutama basis UMKM yang jumlahnya sangat banyak Dan kehidupannya tidak lenting dari fluktuasi harga BBM. Ini yang harus menjadi perhatian Pemerintah secara riil," ungkap Poempida.

"Akan lebih menyedihkan lagi kalau memang tuduhan tentang adanya kartel itu kemudian terbukti. Bukan saja hanya Pemerintah yang akan jatuh namanya tapi juga perekonomian Indonesia akan menjadi sangat terpuruk sebagai taruhannya," demikian Poempida. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya