Berita

Humphrey Djemat/net

Wawancara

WAWANCARA

Humphrey Djemat: Demi Kesetaraan Hukum, Wajar SDA Ditangguhkan Penahanannya

SELASA, 16 JUNI 2015 | 09:13 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama ini tidak pernah memberikan penangguhan penahanan terhadap tersangka kasus korupsi.

Tapi kenapa Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hasil Muktamar Jakarta Djan Faridz mendatangi mar­kas KPK, di Jakarta, kemarin, untuk menyampaikan permo­honan penangguhan penahanan terhadap bekas Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA)?.

Kedatangan Djan Faridz ke KPK ingin menghadap pimpinan KPK untuk memohon penang­guhan penahanan SDAyang menjadi tersangka dugaan ko­rupsi penyelenggaraan ibadah haji di Kementerian Agama pada 2012-2013.


Apa alasan pimpinan PPP memohon penangguhan pe­nahanan bekas Ketua Umum PPP itu, padahal KPK tidak pernah memberi penangguhan penahanan?

Menanggapi hal itu, Ketua Tim Penasihat Hukum SDA, Humphrey Djemat mengatakan, alasan pihaknya memohon pen­angguhan penahanan terhadap kliennya karena ingin ada kesetaraan hukum.

"Pak Abraham Samad (Ketua KPK non aktif), Bambang Widjojanto (Wakil Ketua KPK non aktif), dan Novel Baswedan (pe­nyidik KPK) juga ditangguhkan penahanannya di Polri. Tentu wajar bila klien kami juga diberi­kan penangguhan penahanan biar ada kesamaan hukum," pa­par Humphrey Djemat, kepada Rakyat Merdeka, yang dihubun­gi via telepon, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya;

Bukankah KPK selama ini tak pernah memberikan penangguhan penahanan terh­adap tersangka korupsi?
Tentu nggak ada masalah kalau klien kami diberi pertamakali untuk penangguhan penahanan. Kalau permohonan kami itu dikabulkan berarti ada kesetaraan hukum sesama warga negara karena pimpinan dan pe­nyidik KPK juga mendapatkan penangguhan penahanan.

Ini kan lembaga berbeda, Polri selama ini memang mem­beri penangguhan penahanan, sedangkan KPK tidak pernah, bukankah ini jadi masalah?
Nggak ada masalah bila diberikan penangguhan penahanan itu. Sebab, Polri dan KPK itu sama-sama lembaga penegak hukum. Logikanya KPK juga bisa mem­beri penangguhan penahanan. Apalagi Pak SDA sakit jantung dan sakit diabetes, tentu di sini ada juga faktor kemanusiaannya.

Bukankah ada aturan bah­wa KPK tidak boleh memberi penangguhan penahanan?
Itu hanya aturan di internal KPK, bukan tertuang dalam undang-undang. Kalau tertuang dalam undang-undang, seperti di KPK tidak boleh keluarkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan), tentu kami tidak akan memohon agar KPK men­geluarkan SP3 untuk kasus SDA. Kami tidak akan melakukan pe­langgaran undang-undang

Yang kami mohonkan kan hanya penangguhan penahanan. Dalam kesetaraan hukum KPK bisa memberi penangguhan penahanan karena tidak undang-undang yang melarangnya.

Apa alasan lain untuk per­mohonan penangguhan pena­hanan itu?
Beliau bukan hanya sebagai bekas Ketua Umum PPP, tapi saat ini menjadi pengurus, yakni sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai. Pak SDA masih dibutuhkan oleh PPP.

Apa itu saja?
Selain itu hingga saat ini KPK belum memiliki bukti kuat untuk menahan Pak SDA. Seperti kita ketahui, Pak SDA sudah ditahan lebih dari 60 hari. Terus terang kita lihat sampai saat ini belum ada bukti kuat dasar hukum penahanan tersebut.

Kenapa Anda bilang begitu?
Kami telah mendapat su­rat dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang menyatakan per­hitungan kerugian negara dalam dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji yang menjerat SDA hingga saat ini belum ada.

Untuk itulah, dengan banyak alasan itulah, kami menyam­paikan permohonan kepada pimpinan KPK agar klien kami ditangguhkan penahanannya.

Bagaimana kalau nanti SDA melarikan diri?
Itu nggak mungkin. Kami bersama pimpinan serta seluruh kader PPP menjadi jaminannya. Jadi Pak SDA nggak mungkin melarikan diri. Beliau akan menjalani proses hukum di KPK sampai selesai.

Kalau dicurigai bisa menghil­angkan bukti, ini bagaimana?
Semua dokumen sudah dipe­gang oleh KPK. Bukti apa lagi yang bisa dihilangkan. Pimpinan PPP juga menjamin Pak SDA akan selalu kooperatif dalam pemeriksaan selanjutnya. Itu jaminan yang kami berikan. Selain itu, Pak SDA juga nggak mungkin lagi mengulangi perbuatannya karena tidak lagi menjadi menteri. Maka dengan banyak alasan itu, wajar bila pimpinan KPK mengabulkan permohonan kami ini. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya