Berita

foto:PAHAM Indonesia

PAHAM Indonesia: Kekerasan Terhadap Etnis Rohingya Benar Adanya

KAMIS, 11 JUNI 2015 | 04:11 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Kekerasan dan pembantaian yang terjadi di Myanmar memang terjadi nyata. Itu fakta yang diperoleh Tim Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Indonesia saat melakukan assasment kepada para pengungsi Rohingya di Langsa, Lhoksomawe, Bayyin dan Aceh Utara.

Demikian disampaikan Wasekjen PAHAM Indonesia, Ali Wiji Edhi, yang memimpin tim asassmen di lapangan, seperti dalam keterangannya yang dikirim ke redaksi, Kamis (11/6).

"Semua pengungsi menceritakan kejadian kekerasan dan pembantaian yang terjadi di Myanmar, dari 600 orang lebih yang telah kita interview, tak ada satu pun yang membantah adanya upaya etnis cleansing. Para pengungsi dari Myanmar ini rata-rata berasal dari Sittwe dan Maungdaw, namun bukan berasal dari kota, mereka ini orang pinggiran," terang aktivis kemanusiaan dari PAHAM Indonesia tersebut.


Secara detail para pengungsi Rohingya menceritakan bagaimana mereka bisa sampai ke Aceh, bila mereka diperlakukan baik di kampungnya tak akan mau terkatung-katung di lautan.

"Menurut cerita mereka, yang melakukan pembakaran rumah adalah kelompok 969. Setelah keluar rumah mereka diusir oleh polisi dan tentara yang ternyata ada di belakang barisan kelompok tersebut. Yang mereka bisa lakukan hanya menyelamatkan diri ke laut, bila tidak mereka bisa terbunuh. Bahkan beberapa diantaranya pura-pura mati untuk menyelamatkan diri," uangkap Ali menguraikan data yang diperoleh dari interview para pengungsi Rohingya.

Oleh karenanya, Ali sangat menyayangkan apabila ada yang menyampaikan bahwa di Myanmar tidak ada kekerasan ataupun konflik.

"Tentunya masyarakat jangan sampai diberikan informasi yang tidak benar, yang mengakibatkan pandangan negatif pada pengungsi. Oleh karenanya, selain menyalurkan bantuan dari pada donatur, kami juga melakukan asassment untuk memberikan rekomendasi pola pengelolaan terbaik untuk para pegungsi tersebut," imbuhnya. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya