Berita

Bambang PS Brodjonegoro/net

Menkeu: Realisasi Belanja Negara Tembus Rp 600 Triliun

KAMIS, 11 JUNI 2015 | 00:50 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro memaparkan, belanja negara semakin cepat terealisasi. Hingga 1 Juni 2015, anggaran belanja negara telah tembus Rp 600 triliun.

"Data minggu lalu menunjukkan belanja negara tercatat sudah di atas Rp 600 triliun lebih atau 31 persen dari pagu sebesar Rp 1.984,1 triliun," kata Bambang dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (8/6) lalu.

Mengacu pada data terbaru tersebut, belanja negara berarti melonjak hampir Rp 52 triliun dalam tempo 10 hari, mengingat posisinya pada 20 Mei baru mencapai Rp 548,7 triliun atau 27,7 persen dari pagu dan pada 15 Mei sebesar Rp 540,5 triliun setara 27,2 persen dari pagu.


Menurut Bambang, posisi realisasi penerimaan negara pada 1 Juni 2015 juga sudah mencapai 31 persen.

Khusus penyaluran dana desa, Bambang memaparkan, pencairan tahap I dengan pagu senilai Rp 8 triliun, realisasinya hingga pekan lalu sudah mencapai Rp 7,1 triliun. "Hampir semua desa sudah membuat peraturan bupati," ujar dia.

Sementara itu, hari Rabu (10/6), Menteri Bambang mengajukan pagu indikatif tahun anggaran 2016 sebesar Rp 32,6 triliun, atau naik 6,08 persen dari APBN-P 2015.

"Pagu indikatif Kementerian Keuangan tahun anggaran 2016 diajukan dengan melihat agenda prioritas pembangunan (Nawacita) kesatu, ketiga, keenam, dan ketujuh," kata Bambang dalam raker dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (10/6).

Nawacita kesatu berupa menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. Menurut Bambang, kegiatan prioritas implementasi Nawacita kesatu antara lain berupa pelaksanaan pengawasan dan penindakan atas pelanggaran peraturan perundangan, intelijen, dan penyidikan tindak pidana kepabeanan dan cukai.

Sedangkan implementasi Nawacita ketiga, yakni membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, dilakukan dengan kegiatan prioritas antara lain perumusan kebijakan, pembinaan, dan pengelolaan transfer ke daerah dan dana desa.

Selanjutnya, Nawacita keenam, yakni meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, kegiatan prioritas antara lain pengelolaan dukungan pemerintah dan pembiayaan infrastruktur, perumusan kebijakan pajak, kepabeanan, cukai, dan PNBP.

Lebih lanjut Bambang memaparkan, Nawacita ketujuh, yakni mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik diturunkan melalui kegiatan prioritas perumusan kebijakan sektor keuangan, pengelolaan anggaran belanja pemerintah pusat, perumusan kebijakan, standardisasi, dan bimbingan teknis, evaluasi dan pelaksanaan di bidang analisis dan evaluasi penerimaan perpajakan.

"Pada 2014, pencapaian dan prestasi yang diraih Kementerian Keuangan adalah opini wajar tanpa pengecualian. Kemudian Juara I Anugerah Keterbukkaan Informasi publik kategori Kementerian," kata Bambang.

Selain itu, beberapa unit kerja Kemenkeu, lanjut Bambang, juga meraih predikat wilayah bebas dari korupsi, yakni Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bojonegoro, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Bangko, Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Surabaya, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Kudus dan Purwakarta.

Sembilan unit kerja lain juga mendapatt predikat wilayah birokrasi bersih dan melayani, yakni KPP Wajib Pajak Besar III Jakarta, KPKNL Jakarta V dan Banda Aceh, KPPBC Kediri, KPPN Malang, Semarang II, LPSE Jakarta, KPP Pratama Purwokerto, dan Direktorat Dana Perimbangan Dirjen Perimbangan Keuangan.

Dari pagu indikatif Kemenkeu tahun anggaran 2016 senilai Rp 32,6 triliun, alokasi terbesar untuk sekretaris jenderal Rp 15,59 triliun, Direktorat Jenderal Pajak Rp 9,1 triliun, Ditjen Bea dan Cukai Rp 3,92 triliun.

Pagu indikatif untuk Badan Kebijakan Fiskal dialokasikan naik 99,27 persen menjadi Rp 266,04 miliar karena Indonesia akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan sidang tahunan Islamic Development Bank dan sidang tahunan World Islamic Economic Forum pada tahun depan.

"Selain itu untuk membuat kajian UU Penjamin Polis dan kajian Industrial Policy agar Indonesia bisa masuk dalam global value chains serta kajian/draft RPP/RPMK kebijakan perpajakan untuk mendukung industri migas," kata Bambang. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya