Berita

ilustrasi/net

Pencopotan Dirut Bulog Harus Diikuti Para Menteri di Bidang Ekonomi

RABU, 10 JUNI 2015 | 04:13 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu mengapresiasi langkah Presiden Jokowi lewat Menteri BUMN Rini Soemarno yang telah mengganti Dirut Bolog dari Lenny Sugiat kepada Djarot Kusumayakti.

Alasan pemerintah melakukan pergantian adalah karena Bulog dinilai gagal mencapai target penyerapan gabah petani pada masa panen tahun 2015, dimana pemerintah menargetkan Bulog bisa menyerap beras petani hingga 4 juta ton, namun sampai sekarang baru terserap 1,2 juta ton. Bulog juga dinilai gagal menstabilkan harga beras yang melambung.

"Kalau benar itu alasannya, tentu saja cukup masuk akal. Dan perlu kita apresiasikan," kata Sekretaris Jendral Badan Pengurus Pusat (BPP) Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Tri Sasono dalam rilisnya, Rabu (10/6).


Menurutnya, hal yang sama juga harus dilakukan terhadap direksi BUMN di sektor usaha lainnya agar mereka secara serius dan tidak main-main dalam bekerja.

"Berdasarkan pencopotan dirut Bulog dan satu direksi Bulog juga bisa dijadikan langkah untuk mencopot direksi-direksi BUMN yang tidak bekerja sesuai target dan cenderung meyebabkan kerugian bagi BUMN yang dipimpin, seperti direksi Pertamina yang selama lima memimpin juga telah meyebabkan kerugian terhadap Pertamina sebesar Rp 2,75 trilun periode Jan-Feb 2015. Dan tidak dicopotnya direksi Pertamina yang telah gagal karena Pertamina rugi menjadi tanda tanya besar, sebab tidak dicopotnya direksi Pertamina karena sangat kompromi dengan intruksi Klan Sumarno yang banyak mengintervesi Pertamina terutama dalam hal impor BBM ke Pertamina," beber Tri Sasono.

Ia menambahkan, direksi Pelindo II yang sudah punya catatan merah di KPK dan diduga terjerat dalam penyalahgunaan dana CSR untuk pembangunan sawah dan menduduki jabatan sejak SBY-JK tidak dicopot juga patut dipertanyakan, apakah karena telah memberikan kontribusi bisnis car port di Tanjung Priuk pada JK. Padahal selama RJ Lino memimpin Pelindo hutang Pelindo II makin bertambah.

"Kegagalan dirut Bulog dalam mencapai target membuktikan bahwa sistim head hunter perekrutan direksi dan komisaris BUMN yang dilakukan oleh Meneg BUMN sangat tidak bermutu sehingga direksi yang terpilih tidak sesuai dan tidak mampu mencapai target yang ditetapkan pemegang saham," kata Tri Sasono.

Tetapi, lanjut Tri Sasono, ada kabar yang tak sedap bahwa digantinya dirut Bulog dan satu direksi Bulog lebih diakibatkan karena adanya kepentingan untuk melakukan impor beras yang akan dilakukan oleh para mafia. Dimana dirut Bulog yang lama menolak melakukan impor beras karena akan merugikan petani .

"Kegagalan menstabilkan harga beras di pasar juga sebenarnya bukan sebuah kesalahan yang fatal dari dirut Bulog, sebab naiknya harga beras punya hubungan yang kuat dengan kegagalan Presiden Jokowi menstabilkan nilai kurs rupiah terhadap dolar yang berimbas pada tingginya harga beras, karena para pedagang besar beras menetapkan harga jual beras domestik berdasarkan harga beras international," ungkapnya.

Begitu juga dengan dampak dilepasnya harga BBM sesuai harga pasar mempunyai impact terhadap biaya beras distribusi angkutan gabah dan beras yang meyebabkan harga jual beras tetap tinggi.

Terakhir, Tri Sasono mengungkapkan, belajar dari kasus Bulog, sebaiknya Presiden Jokowi juga melakukan pencopotan terhadap para menteri yang tidak mencapai target kinerja yang ditetapkannya, atau yang sering membuat blunder dan membuat pemerintahan Jokowi-JK terlihat bodoh.

"Menteri yang layak dicopot yaitu Meneg BUMN (Rini Soemarno) karena gagal memilih personal yang ditempatkan di BUMN, Menseskab (Andi Widjajanto) yang salah buat Kepres, materi Pidato, Menteri ESDM (Sudirman Said) dan menteri yang membidangi ekonomi yang gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi dari 5,6 persen dan hanya tumbuh 4,7 persen pada semester pertama tahun 2015, serta gagal memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," jelasnya. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya