Mantan pemain dan pelatih Timnas sepakbola Indonesia, Herry Kiswanto mengaku masih tidak terima atas hukuman larangan berkecimpung di sepakbola seumur hidup, akibat tragedi sepakbola 'gajah', setahun lalu.
"Hukuman itu sama sekali tidak adil, karena saya tidak tahu-menahu soal pengaturan skor itu," katanya saat ditemui di sela silaturrahim mantan pemain Timnas di Bintaro, baru-baru ini.
Sebagaimana diketahui, Herry yang selama 17 tahun karirnya sebagai pemain hanya sekali terkena kartu kuning, justru disanksi berat atas kasus sepakbola gajah.
"Sebagai seorang pelatih saya tidak pernah meminta pemain 'mengalah'," tegasnya.
Saat laga PSS Sleman yang dilatihnya melawan PSIS di Divisi Utama dia juga seperti biasa mendorong timnya bermain dan tak ada tim yang ditakuti. Para pemain memang diakui tidak bermain sewajarnya.
"Saya tinggal untuk shalat, kejadian gol-gol aneh ramai terdengar," kenangnya.
Ujung-ujungnya, hasil penyelidikan memberinya sanksi seumur hidup, begitu juga beberapa pemain timnya dan juga pemain dan
official tim PSIS yang dihukum berbeda-beda. Yang mengherankan manajer PSS Sleman saat itu lolos dari hukuman.
"Ada apa sebetulnya. Mengapa orang yang seharusnya bertanggung jawab justru lepas," katanya, mempertanyakan.
Menurut pemain yang sempat membawa Timnas memperoleh medali emas sepakbola pada 1997 dan empat besar Asian Games itu, Komdis PSSI di bawah Hinca Panjaitan tidak adil. Seharusnya penyelidikan hingga tuntas. Bahkan saat itu Hinca berjanji akan menindak pelaku di balik layar tpi sampai saat ini tidak ada hasilnya.
"Tapi saya tidak ingin memfitnah, siapa bermain karena saya memang tidak tahu," ungkapnya.
"Tapi saya yakin, dengan penyelidikan tuntas pihak kepolisian, mestinya bisa ditemukan siapa sebenarnya di belakang peristiwa itu," cetusnya.
Sampai sekarang pun tambahnya, dirinya ingin terus mencari keadilan. Karena diakui, hukuman ini dirasakannya terlalu berat.
"Saya pernah bertemu Ricky Yakobi sebagai anggota Tim 9 Kemenpora, " katanya.
Dia juga ingin berbicara langsung dengan Ketua Umum PSSI dengan posisi sama-sama tidak dipengaruhi pihak-pihak ketiga. Katanya, dia ingin menjelaskan semuanya dengan tuntas. Meskipun merasa tidak mendapat keadilan, Herkis mengaku ikut prihatin dengan nasib sepakbola Indonesia saat ini.
"Saya berharap, baik Menpora maupun PSSI duduk bersama menuntaskan masalah yang ada," katanya.
Sebab kondisi sepakbola Indonesia semakin sulit dengan sanksi yang ada, baik dari FIFA maupun pemerintah. Tentu saja dia juga mengajak semua pihak di sepakbola nasional jangan lagi terjadi hal-hal seperti pengaturan skor, dan lain sebagainya.
"Semua hal termasuk penyelenggaraan kompetisi memang harus lebih ditekankan perbaikan menyeluruh," ujarnya.
Sebab sebagai pelatih dia juga menemukan, di satu daerah, ada tim yang tidak boleh kalah.
"Ada ancaman terhadap inspektur pertandingan dan sebagainya," katanya.
Herry juga berharap, hukumannya bisa ditinjau kembali.
[wid]