Berita

foto:net

Faktor Ekonomi Juga Jadi Alasan Penindasan Rohingya

JUMAT, 05 JUNI 2015 | 03:14 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Arakan adalah negara bagian Myanmar yang berbatasan langsung dengan wilayah Bangladesh. Penamaan Arakan diambil dari kata "Rukun" dalam Islam yang berarti pilar, sendi, atau asas. Dapat pula diartikan baik dan damai. Tidak mengherankan apabila nama Arakan diambil kata "Rukun" dalam Islam, karena pada saat itu (sekitar abab 7 M) wilayah Arakan dalam penguasaan Kerajaan Islam Arakan sehingga nuansa Islam di sana sangat mempengaruhi segi-segi kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Arakan sendiri merupakan tanah kelahiran Rohingya sejak beratus-ratus tahun lamanya. Rohingya sudah ada di Arakan bersamaan dengan perkembangan Kerajaan Islam Arakan dan perkembangan perdagangan orang-orang Persia dan Arab yang datang ke Arakan. Namun, sejak Kerajaan Islam Arakan ditaklukan Kerajaan Burma pada sekitar abab 18 M, Rohingya kemudian mulai menjalani hidup sebagai penduduk minoritas yang tertindas. Tidak lain, karena penduduk mayoritas Burma menempatkan diri mereka sebagai Raja, sementara penduduk dan etnis lainnya dianggap sebagai budak.

Arakan, yang sekarang diganti oleh Pemerintah Myanmar menjadi Rakhine, dalam perkembangan selanjutnya menjadi wilayah jajahan British India. Namun, ketika terjadi perlawanan yang dipimpin oleh Jenderal Aung San (ayah dari aktivis HAM Myanmar Aung San Suu Kyi), wilayah Arakan kemudian diserahkan Inggris kepada Myanmar. Pada saat negara Myanmar merdeka pada tahun 1948, Arakan resmi menjadi bagian kesatuan dari tanah air Myanmar.


Advokat dan pegiat HAM dari SNH Advocacy Center, Heri Aryanto menerangkan, ironisnya, meskipun Arakan diakui sebagai bagian dari tanah air Myanmar, tidak begitu halnya dengan Rohingya. Mereka diperangi, dimusuhi, ditindas, bahkan dibantai dengan alasan karena mereka berbeda.

"Perbedaan yang menjadi alasan mereka tidak mengakui Rohingya pada mulanya adalah perbedaan ras. Rohingya dianggap bukan bagian bangsa Myanmar karena secara fisik Rohingya seperti orang Bengali (Bangladesh). Namun, karena propanda yang terus dilakukan oleh kelompok ekstrimis 969 pimpinan Biksu Wirathu dengan disokong Pemerintah Myanmar, isu perbedaan agama kemudian didalilkan dan menjadi senjata pembunuh untuk mengeliminasi Rohingya dari Bumi Arakan," beber Heri Aryanto dalam rilisnya, Jumat (5/6).

Pertanyaannya, apakah benar hanya faktor perbedaan ras dan agama yang menjadi pemicu penindasan penduduk mayoritas dan Pemerintah Myanmar terhadap Rohingya. Faktanya, kata Heri Aryanto, ternyata tidak hanya faktor itu saja, melainkan ada faktor lain yang justru paling krusial dan menjadi alasan utama mengapa Rohingya harus diperangi dan diusir dari tanah kelahirannya, yaitu faktor ekonomi.

Bumi Arakan adalah tanah yang kaya akan minyak bumi, gas, berlian dan sumber daya alam lainnya. Tidak hanya itu, bumi Arakan subur untuk pertanian maupun perkebunan. Permasalahan utama, tanah-tanah di Arakan dimiliki oleh orang-orang Rohingya karena jumlah Rohingya di Arakan dominan, yaitu diperkirakan 80 persen dari total penduduk Arakan. Untuk bisa menguasai kekayaan bumi Arakan, maka cara yang dilakukan mereka adalah dengan mengeliminasi Rohingya dari Tanah Arakan.

"Menurut saya, tidak ada cara lain untuk mereka bisa menguasai kekayaan Bumi Arakan. Rohingya sebagai mayoritas dan pemilik tanah di Arakan harus diusir dan diperangi. Isu ras dan agama sepertinya ampuh untuk memprovokasi penduduk mayoritas Myanmar untuk menindas dan mengeliminasi Rohingya. Saya mendapati pengakuan dari Rohingya di Arakan dan Rohingya di penampungan Aceh yang mengatakan bahwa Pemerintah Myanamar telah mulai mengeksploitasi bumi Arakan. Salah satunya dengan bukti tertanamnya Pipa dari bumi Arakan ke negeri Tirai Bambu untuk menyedot kekayaan alam bumi Arakan," ungkapnya.

"Selama mereka masih ingin menguasai kekayaan bumi Arakan, maka selama itu pula segala upaya merestorasi hak-hak dan mengembalikan Rohingya ke Arakan akan selalu ditolak Pemerintah Myanmar," kata Heri Aryanto menambahkan. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya