Berita

La Nyalla Matalitti/net

Wawancara

WAWANCARA

La Nyalla Matalitti: Saya Siap Dipanggil Presiden Untuk Jelaskan Sanksi FIFA & Tingkatkan Sepakbola Indonesia

RABU, 03 JUNI 2015 | 10:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Setelah FIFA memberi sanksi kepada Indonesia yang di­larang berkiprah di laga internasional, kini nasib pemain jadi luntang-lantung.

Apa yang diperbuat pemerintah dan PSSI melihat hasil ra­pat Komite Eksekutif FIFA di Zurich, Swiss, Sabtu (30/5) lalu yang menjatuhkan sanksi kepada Indonesia?

Ketua Umum PSSI La Nyalla Matalitti mencoba menawarkan sejumlah jalan keluar mengenai masalah ini. Dia ingin bertemu dengan Presiden Jokowi.


Berikut ini wawancara Rakyat Merdeka dengan La Nyalla Matalitti yang saat dihubungi via telepon, kemarin, sedang berada di Eropa:

Apa PSSI menerima begitu saja sanksi FIFA itu?
Saya selama di Zurich sudah berupaya maksimal agar Indonesia tidak terkena sanksi. Minimal sanksi terhadap Indonesia tidak diputuskan di kongres, tapi di Exco Meeting, sehingga sewaktu-waktu bisa dicabut.

Perlu diketahui, sanksi ini dijatuhkan, karena FIFA tidak bisa membiarkan statuta mereka, khususnya pasal 13 dan 17 tentang adanya intervensi terhadap anggotanya dilang­gar. Makanya dalam sanksi tersebut jelas disebutkan adanya intervensi dari BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) dan Kemenpora terhadap PSSI.

Langkah apa yang akan di­ambil PSSI menyikapi sanksi tersebut?
Saya sudah sampaikan secara terbuka melalui media massa. Khususnya kepada Presiden Jokowi, panggil saya, akan saya jelaskan apa yang terjadi dan bagaimana pikiran Presiden tentang meningkatkan prestasi sep­akbola dapat diwujudkan dengan cara yang tepat dan benar. Sebab saya sudah berusaha bertemu Menpora, tapi tidak bisa.

Anda melihat ada intervensi politik dalam kemelut ini?
Saya justru bertanya. Bahkan sudah pernah saya katakan se­cara terbuka. Kejahatan luar biasa apa yang saya lakukan sebagai Ketua Umum PSSI, sehingga organisasi ini diper­lakukan seolah seperti organ­isasi terlarang oleh Menpora. Saya dan pengurus akan di­ganti paksa. Organisasi ini akan dirampas. Apa sebenarnya di balik semua ini. Meningkatkan prestasi sepakbola bukan dengan cara seperti itu.

Apa saran Anda agar PSSI bisa terbebas dari intervensi itu?
Pemerintah menarik diri dari upaya dan tindakan intervensi.

Kemenpora akan menggelar KLB untuk mengganti kepen­gurusan Anda, apa ini akan diakui FIFA?
Pasti tidak.

Apa yang akan Anda lakukan terhadap rencana tersebut?
Saya berpegang pada aturan saja. Kalau semaunya, itu na­manya preman.

Menpora dan Presiden malah setuju dengan sanksi FIFA, tanggapan Anda?
Seluruh masyarakat sepakbola menyayangkan hal itu. Bahkan tokoh-tokoh sepakbola dan olahraga Indonesia, seperti Pak Agum Gumelar dan Ibu Rita Subowo juga menyayangkan. Karena itu saya sampaikan bahwa saya siap dipanggil Presiden untuk men­jelaskan secara langsung.

PSSI selama ini dinilai sangat commercial oriented, apa tanggapan Anda?
Yang mana commercial oriented. Di seluruh dunia ini federasi sepakbola mendap­atkan sumber dana dari hak siar televisi, sponsor dan tiket pertandingan, serta bantuan lainnya. Semua dana tersebut digunakan untuk tiga kompenen utama pembiayaan. Pertama, tim nasional. Kedua, football development dan biaya organ­isasi. Usia dini kami jalankan. Kompetisi amatir U17 piala Soeratin sudah jalan. Tahun ini kompetisi U15 akan dijalankan. Grassroot programs juga sudah jalan. Youth training center di Sawangan sudah digunakan untuk U16 dan U19. Itu semua tanpa bantuan APBN.

Apa mungkin PSSI ke depan bisa jalan tanpa intervensi pemerintah?
Memang sudah seharusnya PSSI berjalan seiring dalam po­sisi mitra dengan pemerintah. Karena PSSI itu organisasi non pemerintah yang berbadan hu­kum perkumpulan. Sama seperti organisasi pada umumnya. PSSI membutuhkan pemerintah untuk mendorong percepatan ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung sepakbola. Bukan ikut menentukan siapa yang berhak berkompetisi dan tidak. Itu urusan induk cabang olahraga. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya