Berita

ahok/net

APKLI: Ahok Bukan Pemimpin Tapi Penjajah

RABU, 27 MEI 2015 | 08:20 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Apa yang dialami pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Monas Jakarta tak ubahnya seperti dijajah Belanda dan Jepang. Saat mereka mencari makan dengan mengkail rezeki halal untuk keluarga, mereka malah dikejar-kejar, dianiaya, digusur dan diusir semena-mena tak berperikemanusian oleh pemerintah.

Lebih dari itu, Gubernur DKI Jakarta Basuku T Purnama (Ahok) menuding PKL Monas Jakarta membuat sirup dari air comberan. Air comberan itu sangat kotor, menjijikkan dan banyak mengandung kuman penyakit. Ahok sangat tidak berdadab, irasional dan ngawur, serta telah menghina yang sangat menyakitkan, bukan saja kepada PKL akan tetapi kepada seluruh rakyat dan bangsa Indonesia. Ahok bukanlah pemimpin melainkan penjajah.

Demikian disampaikan Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Ali Mahsun dalam keterangannya, Rabu (27/5).


APKLI mengingatkan Ahok bahwa Indonesia merdeka dan berdaulat bukan hadiah atau belas kasihan dari bangsa asing melainkan dari cucuran darah, dan nyawa puluhan juta nenek moyang leluhur, yang juga nenek moyang PKL seluruh Indonesia.

"Apapun alasan dan dalihnya, menjajah, menganiaya, menggusur, mengusir dan meniadakan PKL dari Kawasan Wisata Monas Jakarta dan kawasan wisata lainnya adalah pelanggaran HAM, Pancasila, dan UUD 1945. Juga melanggar, Perpres RI 125/2012 tentang Penataan dan Pemberdayaan PKL," tegas Ali Mahsun.

Jelas dia, ketika PKL Monas digusur, dianiaya, diusir dan dihina dengan tak beradab, Ahok malah bakal menghadirkan perusahaan raksasa berskala multinasional atau internasional, Group Rekso atau PT Sinar Sosro sebagai pengelola Lenggang Jakarta di Monas Jakarta, dan menyatakan dirinya Kepala Preman PKL Jakarta.

"Ahok bukanlah Kepala Preman PKL Jakarta, melainkan Kepala Kongsi Kapitalis Multinasional. Cukup 300 ribu PKL terusir dari kawasan PT KAI digantikan kongsi kapitalis multinational asing semisal Sevel, Indomart dan lainnya," sebut Ali Mahsun.

APKLI tak ikhlas dan akan membawa ke meja hijau. Karena ada 5 juta PKL Kawasan Wisata seluruh Indonesia yang harus dilindungi eksistensi ekonomi dan mata pencarian hidup mereka. Tak boleh dicerabut atau dimatikan oleh siapapun, tak terkecuali oleh agresi kongsi kapitalis multinasional asing. Sekali lagi ditegaskan bahwa APKLI takkan bergeser sejengkalpun menghadang mereka, pasang badan apapun resikonya. APKLI tolak hadirnya perusahaan raksasa multinasional dikawasan wisata di seluruh Indonesia.

"APKLI juga ingatkan kepada Presiden Jokowi bahwa PKL Kawasan Wisata tidak boleh diusir semena-mena dan digantikan oleh kongsi kapitalis multinasional. Dan Presiden Jokowi wajib hukumnya menegur Ahok. Karena dengan dalih apapun, tak terkecuali MEA 2015 dan liberalisasi ekonomi lainnya, penjajahan ekonomi PKL dalam bentuk apapun tidak boleh terjadi dan tidak bisa dibiarkan. Jika Negara RI, dalam hal ini Pemerintahan Kabinet Kerja Jokowi-JK acuh tak acuh bahkan menjadi bagian dari mereka, maka APKLI tidak bertanggungjawab jika terjadi badai tsunami PKL Nasional atau revolusi sosial. Ini menyangkut isi perut puluhan juta rakyat. Juga terkait erat dengan kedaulatan ekonomi bangsa Indonesia," beber Ali Mahsun.

Oleh karena itu, lanjut dia, penguasa jangan pernah mencoba-coba memperkeruh suasana dan bermain api di atas penderitaan rakyat yang semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup mereka.

"Silahkan asing berekonomi di Indonesia namun tetap pada koridor kedaulatan ekonomi bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tak boleh merongrong atau menggulungtikarkan ekonomi PKL, juga UKM lainnya," pungkas Ali Mahsun Ketua Umum Bakornas LKMI PBHMI 1995-1998. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya