Berita

Fery julianto/net

Waketum Gerindra: Gerakan Moral Mahasiswa Tak Bisa Dibungkam Istana

KAMIS, 21 MEI 2015 | 17:28 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Aksi demontrasi ribuan mahasiswa di depan Istana Negara pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei yang nyaris berujung ricuh, merupakan bentuk gerakan moral dari kalangan kampus atas kondisi bangsa yang saat ini memperihatinkan. 

Aksi ini tidak mungkin dibungkam oleh Istana karena merupakan gerakan moral dari kaum terpelajar.

"Bagi yang masih punya idealisme dan rasa perjuangan yg mendalam tentang kondisi Indonesia saat ini, seharusnya memang ikut turun membantu atau setidaknya memberikan dukungan moril kepada gerakan mahasiswa," ujar Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono kepada wartawan, Kamis (21/5).


Menurut Ferry, demonstrasi yang terjadi saat ini bisa jadi merupakan embrio perlawanan rakyat kepada penguasa mengingat kondisi saat ini yang sangat memperihatinkan. Terutama masalah kesulitan ekonomi dan masih banyaknya ketidakadilan yang melanda kehidupan rakyat.

"Pemerintah harus sungguh sungguh memperhatikan masalah tersebut. Jangan malah solusinya rakyat disuruh makan beras plastik," tandas Ferry.

Seperti diketahui, aksi demontrasi mahasiswa di depan Istana Negara nyaris berujung ricuh, kemarin. Ribuan mahasiswa dan aparat keamanan sempat saling dorong ketika massa mencoba menarik kawat berduri dan membakar ban bekas.

Untuk mengamankan aksi ribuan mahasiswa dari beberapa elemen yang memenuhi ruas Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat ini, sebanyak 2500 personel polisi dikerahkan.

Sejumlah elemen mahasiswa yang turun ke jalan diantaranya dari HMI, IMM, UBK, Stibang Islam, Universitas Ibnu Khaldun dan lain-lain yang tergabung dalam Koalisi Pergerakan Mahasiswa Indonesia (KPMI).

Akibat aksi ini, polisi terpaksa menutup Jalan Medan Merdeka dan mengalihkan kendaran berbelok ke Jalan Veteran. Saat berdemo, mereka menyuarakan kritik terhadap pemerintahan Jokowi-JK yang tak kunjung mampu mengatasi penderitaan rakyat. Seperti kenaikan harga-harga, sumber daya alam yang tersia-siakan, dan penegakkan hukum yang masih carut-marut.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya