Berita

Dipo Alam/net

Wawancara

WAWANCARA

Dipo Alam: Saya Sering Berdiskusi Dengan Pak SBY, Tapi Tidak Mengenai Pengurus Demokrat

RABU, 20 MEI 2015 | 08:45 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sejumlah pejabat di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II disebut-sebut bakal menjadi pengurus Partai Demokrat yang saat ini sedang digodok.

Ketua Umum Partai Demokrat periode 2015-2020 hasil kongres di Surabaya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan me­masukkan 'bekas pembantunya' di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) menjadi pengurus partai berlambang mercy tersebut.

Kader Partai Demokrat Ruhut Sitompul membenar­kan ada kemungkinan pejabat di KIB II itu akan memperkuat kepengurusan Demokrat lima tahun ke depan.


Apalagi, lanjut Ruhut, saat kongres di Surabaya itu hadir Sudi Silalahi (bekas Mensesneg), Dipo Alam (bekas Sekretaris Kabinet), Dino Patti Djalal (be­kas Wakil Menteri Luar Negeri), Djoko Suyanto (bekas Menko Polhukam) dan Hatta Rajasa (bekas Menko Perekonomian).

Menanggapi hal itu, Dipo Alam mengaku belum ada pem­bicaraan intensif dengan SBY mengenai sejumlah pejabat KIB II akan masuk pengurus Demokrat.

"Saya masih sering berkomu­nikasi dan berdiskusi dengan Pak SBY, tapi tidak mengenai wacana pengurus Demokrat," kata Dipo Alam, kepada Rakyat Merdeka, yang dihubungi via telepon, kemarin.

Berikut kutipan selengkap­nya:

Ruhut bilang sejumlah peja­bat KIB II akan memperkuat kepengurusan Demokrat?

Wah, saya belum pernah dengar tuh. Saya nggak tahu. Itu urusan Partai Demokrat, he-he-he. Saya kan bukan kader.

Tapi Anda masih ingin ter­jun ke dunia politik?

Oh, nggak. Saya sudah cu­kup, dengan usia seperti ini dan sudah bergabung dalam KIB II, itu sudah sangat cukup. Tidak ada keinginan berpolitik, baik melalui partai maupun di pe­merintahan.

Anda bilang sering berdis­kusi dengan SBY, mengenai apa saja?
Mengenai banyak hal, termasuk yang terkait dengan tugas-tugas beliau.

Tugas-tugas dalam kapasi­tas sebagai apa?
Umpamanya beliau sebagai pimpinan partai, saya tidak masuk di Partai Demokrat, tapi memberikan masukan-masukan. Begitu juga beliau sebagai tokoh internasional, tentu kami bertu­kar pikiran.

Biasanya lebih banyak mem­bahas soal apa?
Oh, lebih banyak ke masalah nasional dan internasional. Termasuk membantah berita yang ada di beberapa media yang seolah-olah masalah Petral setiap mau dibubarkan, berhenti di meja SBY. Saya bantah, Anda bisa lihat nanti di twitter saya.

Kalau begitu, bagaimana jika SBY meminta Anda ber­gabung di Demokrat?
Begini, saya menghormati beliau. Boleh dikatakan semua tugas saya lakukan. Tapi kalau memang ada permintaan ber­gabung ke Partai Demokrat, kali ini saya mohon untuk tidak bisa menerima.

Kenapa?
Saya pikir, saya sudah cukup. Dengan usia dan kesempatan yang pernah saya terima, itu su­dah sangat lebih dari cukup saya baktikan. Saya tidak ada ambisi duduk di jabatan partai politik, pemerintahan, atau lembaga negara lain.

Anda maunya jadi apa dong?
Lebih baik jadi masyarakat biasa.

Apa kesibukan Anda saat ini?
Melukis, menulis, dan ingin juga jadi dosen. Kemudian membina anak-anak saya untuk masuk dunia usaha.

Anda menulis apa?
Saya menulis fiksi novel sejarah yang sempat tertunda. Sekarang saya coba lengkapi. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya