Berita

ilustrasi/net

Cuma Akal-akalan Jokowi, Petani Sawit dan Buruh Tolak Pajak Ekspor CPO

RABU, 20 MEI 2015 | 05:54 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Mulai akhir bulan ini pajak ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar 50 dolar AS per ton CPO mulai diberlakukan.

Namun, petani sawit dan buruh perkebunan menolak aturan tersebut diberlakukan. Para petani sawit dan buruh perkebunan meminta Presiden Jokowi membatalkan pemberlakuan aturan itu karena akan memberatkan dan membuat penghasilan para petani sawit menurun.

"Beban pajak ekspor dapat dipastikan akan dibebankan pada petani sawit oleh perusahaan perkebunan inti yang menampung tandan buah segar yang dihasilkan dari kebun petani plasma. Ini tentu akan berpengaruh pada pendapatan petani yang akhirnya berdampak pada ketidakmampuan petani membayar kewajiban kredit kepada bank," ujar Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUN, Tuhu Bangun, dalam keterangannya kepada redaksi, kamerin.


Dia mencontohkan, saat ini harga tandan buah segar tiap ton berkisar di harga 1,2 juta. Jika tiap tahun TBS yang dihasilkan kebun sawit yang baru berumur 5 tahun sebesar 10 ton, maka TBS yang diperoleh petani sebanyak 20 ton, dengan minimal kebun plasma yang dimiliki seluas 2 hektar. Dari perhitungan tersebut pendapatan petani berkisar Rp 24 juta tiap tahunnya.

"Tapi, jika dibebani pajak ekpor CPO sebesar 50 dolar AS per ton CPO, dengan nilai tukar rata-rata Rp 13.000, maka pendapatan petani menjadi hanya Rp 11 juta rupiah pertahun. Jika dipotong pembayaran kredit sebulannya Rp 500 ribu maka petani hanya akan menerima Rp 5 juta pertahun. Dan jika dirata-ratakan maka penghasilan Petani menjadi 480 ribu perbulan," papar Tuhu.

Ketua Umum Asosiasi Petani Plasma Sawit Indonesia Rahman Tiro menambahkan, penggunaan pajak ekpor yang menurut pemerintah akan digunakan untuk pengembangan replanting kebun petani cuma omong kosong sebab petani sawit akan dikenakan bunga yang tinggi.

Dia menilai pengenaan pajak ekspor CPO hanya akal-akalan Presiden Jokowi untuk mendanai kampanye di Pilpres mendatang karena dana pajak eksport CPO akan ditampung di rekening khusus.

"Jika tetap dilanjutkan kami para petani sawit plasma akan menghentikan pembayaran kewajiban kredit pada perbankan karena penghasilan penjualan TBS tidak mungkin bisa mengangsur cicilan kredit kebun dan biaya hidup," ujar Rahman.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya