Berita

sofyan djalil/net

Politik

Sofyan Djalil Memang Harus Diganti

KAMIS, 14 MEI 2015 | 19:46 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Tim ekonomi Kabinet Kerja terbukti gagal mewujudkan Nawa Cita dan semangat Trisakti. Jika tidak segera diformat ulang, kekecewaan rakyat akan semakin meluas.

"Waktu tujuh bulan memang belum cukup menilai kinerja menteri. APBN belum terserap sepenuhnya, para menteri masih dalam konsolidasi di kementeriannya masing-masing. Tapi kalau (reshuffle) ditunda takutnya akan terlambat membuat terobosan, nanti publik tambah kecewa" kata pengamat politik Prof Asep Warlan Yusuf kepada Kantor Berita RMOL sesaat lalu, Kamis (14/5).

Ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja menteri-menteri ekonomi sudah banyak dipotret lembaga survei.


Hasil survei Indonesia Development Monitoring (IDM), misalnya, menunjukkan bahwa masyarakat yang menyatakan kerja menteri ekonomi terhadap ekonomi rumah tangga masyarakat tidak memuaskan sebesar 90,5 persen. Sedangkan yang puas hanya 4,9 persen dan sangat puas 4,6 persen.  

Tingginya ketidakpuasan publik antara lain dipicu oleh kenaikan harga BBM, gas, biaya transportasi, harga sembako serta penghasilan masyarakat yang tak mampu meningkatkan daya beli masyarakat.

Menurut Asep Warlan, reshuffle menteri ekonomi harus benar-benar didasarkan pada pertimbangan memperbaiki kinerja ekonomi.

Bukan hanya figur yang paham dan menguasai persoalan ekonomi, Jokowi harus menempatkan figur yang bisa membuat terobosan dalam mengatasi permasalahan sebagai penggantinya.

Dia sepakat dengan penilaian sebagian kalangan bahwa kebanyakan menteri bidang ekonomi saat ini tidak cakap menjalankan tugas-tugasnya.

Menteri-menteri itu antara lain Menkoperekonomian Sofyan Djalil, dan Menteri BUMN Rini Sumarno.

"Harus dipilih orang-orang yang bisa melipatkan gandakan kinerja. Kalapun mau diganti, Jokowi harus memilih orang yang memiliki kapasitas lebih sebagai penggantinya. Jangan orang yang biasa-biasa saja," demikian Asep.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya