Berita

IWAN SUMULE/net

Mayoritas Publik Juga Tak Puas dengan Kinerja Jokowi di Bidang Polhukam

RABU, 13 MEI 2015 | 11:52 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Selain bidang ekonomi, di bidang politik, hukum dan keamanan (polhukam), publik juga mengaku tidak puas dengan kinerje pemerintahan Jokowi-JK di semester pertama (enama bulan).

Dari hasil survei Indonesia Development Monitoring (IDM), sebanyak 59,2 persen menilai kinerja politik Jokowi tidak memuaskan. Sebanyak 80,7 persen publik menilai tidak puas di bidang hukum. Dan sebanyak 79,2 persen menilai tidak puas di bidang keamanan.

Direktur Eksekutif IDM, Iwan Sumule mengatakan, di bidang politik, Jokowi dianggap lambat meredakan tensi politik antara  KIH dan KMP. Serta tidak solidnya partai koalisi mendukung Jokowi.


"Hal ini tergambar dengan sikap PDIP terhadap Jokowi pada Kongres PDIP 9 April. Dimana Jokowi hanya menjadi tamu biasa, tidak diberi kesempatan memberikan sambutan sebagai presiden. Ini menunjukan bahwa hubungan antara Jokowi dan PDIP serta Megawati memanas," sebut Iwan Sumule kepada redaksi, Rabu (13/5).

Begitu juga hubungan Jokwi dengan JK tidak kompak, hal ini akibat kekuasaan politik ekonomi dalam pemerintahan diserahkan pada Luhut Panjaitan sebagai Kepala Staf Kepresidenan yang mirip dengan tugas Wapres sehingga fungsi dan peran JK sebagai wapres berkurang. Terakhir, JK dan Surya Paloh yang sangat terlihat ikut-ikutan intervensi dalam kasus Golkar.

Di bidang hukum, lanjut Iwan Sumule, konflik KPK-Polri membuat publik tidak puas dengan Jokowi. Konflik dua lembaga hukum itu terjadi secara berkepanjangan. Juga ketidakkepuasan publik terhadap bidang hukum akibat praktek korupsi yang masih marak.

Sementara di bidang keamanan, Iwan Sumule, masih banyak terjadi aksi perampokan (begal) hingga pembunuhan yang sangat merisaukan masyarakat. (Baca juga: Sebanyak 90,5 Persen Publik Tak Puas dengan Kinerja Ekonomi Jokowi)

Survei Indonesia Development Monitoring (IDM) ini dilakukan pada 18 April-28 April 2015 dengan jumlah responden 1.250 orang. Survei mengunakan metode multi stage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin error +/- 2,7 persen. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya