Berita

Iwan Sumule/net

Sebanyak 90,5 Persen Publik Tak Puas dengan Kinerja Ekonomi Jokowi

RABU, 13 MEI 2015 | 10:54 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Mayoritas publik tidak puas dengan kinerje ekonomi pemerintahan Jokowi-JK di semester pertama (enama bulan).

Dari hasil survei Indonesia Development Monitoring (IDM), sebanyak 90,5 persen masyarakat merasakan tidak puas, sedangkan yang puas hanya 4,9 persen dan sangat puas 4,6 persen.

Direktur Eksekutif IDM, Iwan Sumule menjelaskan ketidakpuasan publik yang sangat tinggi terhadap pemerintahan Jokowi dikarenakan selama enam bulan ekonomi rumah tangga masyarakat makin berat, yang disebabkan oleh naiknya harga BBM, gas, biaya tranportasi, tingginya harga sembilan bahan pokok, serta tidak naiknya daya beli masyarakat.


Begitu juga masyarakat yang mempunyai keluarga yang masuk angkatan kerja baru tidak tetampung oleh lapangan kerja karena tidak adanya lapangan kerja baru.

"Ini terbukti dengan ekonomi yang tumbuh hanya 4,71 persen dan jebloknya nilai kurs rupiah terhadap dolar AS," sebut Iwan Sumule kepada redaksi, Rabu (13/5).

Begitupula ketidakpuasan dan kekecewaan masyarakat di bidang ekonomi terhadap Kementerian BUMN yang mengelolah BUMN dengan menempatkan jajaran komisaris dan direksi BUMN yang menyalahi UU dan aturan tentang BUMN, yang banyak mengakomodir kepentingan politik dibandingkan masalah kompentensi.

"Masyarakat menilai bahwa pengelolaan BUMN hanya akan dijadikan pusat bancaan baru oleh rezim Jokowi. Dan terbukti dengan jebloknya kinerja saham-saham BUMN di pasar modal," beber Iwan Sumule.

Ia menambahkan, pemberian izin eksport konsetrat hasil tambang yang meyalahi UU kepada asing juga salah satu ketidakpuasan masyarakat.

"Jokowi dianggap telah berhianat terhadap Trisakti dan Nawacita," tukasnya.

Survei Indonesia Development Monitoring (IDM) ini dilakukan pada 18 April-28 April 2015 dengan jumlah responden 1.250 orang. Survei mengunakan metode multi stage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin error +/- 2,7 persen. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya