Berita

net

AS Hikam Ingatkan Konflik Keraton Yogya Berpotensi Jadi Persoalan Politik Serius

SENIN, 11 MEI 2015 | 00:35 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemerintah diingatkan untuk tidak tinggal diam dalam hal-hal tertentu terkait konflik internal Keraton Yogyakarta pasca dikeluarkannya Sabda Raja dan Dawuh Raja oleh Sultan Hamengku Bawono X. Dikehendaki atau tidak, pemerintah pada akhirnya 'akan dipaksa' untuk ikut campur dalam dinamika Keraton.

"Pemerintah pusat untuk sementara boleh saja pura-pura 'tidak mau ikut campur'. Tetapi jika nanti persoalannya sudah terkait dengan DPRD dan suksesi Gubernur, justru kalau Presiden Jokowi tidak pro aktif, akan berpotensi menjadi persoalan politik yang serius," kata pengamat politik senior Muhammad AS Hikam dalam akun facebooknya, Minggu (10/5).

Sebab, kata Hikam, meski masalah internal Keraton bisa dianggap sebagai 'masalah keluarga' tetapi hal itu tidak terpisahkan dengan kondisi politik sosial budaya di Yogyakarta. Setidaknya ada dimensi politik daerah di dalamnya karena akan berpengaruh langsung dengan figur Gubernur DIY kedepan.


"Dalam aturan main Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta, Gubernur DIY adalah pemimpin utama atau Sultan Keraton," imbuh Hikam.

Seperti diketahui, perkembangan konflik internal Keraton Yogyakarta belakangan ini kian memanas. Para rayi dalem atau putra Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan sikap menentang Sabda Raja dan Dawuh Raja yang dikeluarkan Sultan Hamengku Bawono X. 11 adik Sultan HB X menilai Sabda Raja yang salah satunya menobatkan putri sulung Sultan, Gusti Pembayun sebagai Putri Mahkota, cacat hukum dan batal demi hukum karena tak sesuai dengan paugeran atau aturan baku di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Adapun pemerintah pusat melalui Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan terlibat dalam urusan internal keraton, tak terkecuali sabda raja mengenai pengangkatan Gusti Kanjeng Ratu Pembayun sebagai putri mahkota penerus tahta kerajaan Yogyakarta. Tjahjo mengatakan urusan Sri Sultan Hamengku Bawono X sebagai gubernur memang diatur oleh undang-undang, namun tidak seluruh urusan keraton menjadi perhatian pemerintah.

"Ini kan urusan internal keraton, baik Kemendagri hingga Presiden tidak akan melibatkan diri," ujarnya seusai menghadiri pembukaan rakor Kesatuan Bangsa dan Poltik Se-Sumatra Sumsel, Kamis (7/5/2015).

Tjahjo mengaku sebagian keluarga keraton mendatangi dirinya untuk mendorong adanya rapat keluarga terkait sabda raja tersebut. Meski begitu, dia mengaku dirinya tidak memiliki kapasitas untuk mengeluarkan rekomendasi, saran dan lain sebagainya.[dem]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya