Berita

Ali Mahsun/net

PKL Siaga Satu Krisisi Ekonomi Nasional

MINGGU, 10 MEI 2015 | 13:31 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini lesu dan melamban. Inflasi melonjak, sedangkan pertumbuhan ekonomi kwartal I 2015 hanya 4,71 persen dimana terjadi peningkatan pengangguran sebesar 0,11 persen. Harga-harga barang semakin tak terjangkau daya beli masyarakat yang semakin menurun akibat ekonomi rakyat stagnan tak bergerak. Omset PKL di seluruh tanah air juga terus anjlok.

Lebih dari itu, pihak swata dan asing semakin menahan diri bahkan sudah ada yang alihkan investasi ke luar negeri akibat tidak ada kepastian stabilitas politik, ekonomi dan keamanan.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Ali Mahsun mengatakan, jika kondisi ini tidak segera diatasi pemerintah, maka Indonesia akan menghadapi ancaman serius krisis ekonomi 2015, yang jauh lebih dahsyat dibandingkan krisis 1997/1998.


"Selaku Ketua Umum DPP APKLI, saya menyerukan kepada PKL di seluruh Indonesia untuk tetap berjualan melayani masyarakat, sekuat tenaga memutar roda perekonomian rakyat. PKL harus jadi katup pengaman ancaman krisis ekonomi nasional guna mencegah terjadinya revolusi sosial," kata dia dalam rilisnya, Minggu (10/5).

Oleh karena itu, APKLI desak pemerintah tidak lakukan penggusuran PKL dengan dalih atau alaan apapun. APKLI memastikan, saat ini tanpa PKL ekonomi Indonesia akan kolaps sebagaimana tatkala Indonesia alami krisis ekonomi 1997/1998.

Menurutnya, sekuat apapun rezim pemerintahan jika perut rakyatnya kosong, jika terjadi revolusi sosial maka rezim tersebut akan luruh. Revolusi sosial tahun 1996 luruhkan rezim Sang Proklamator, Presiden Soekarno dan revolusi sosial 1998 luruhkan rezim Presiden Soeharto.

"APKLI beserta PKL di seluruh Indonesia bertekad mencegah terjadinya revolusi sosial karena ongkos yang harus dibayar rakyat dan bangsa Indoesia terlalu mahal. Bahkan, jika tak terkendali, bisa bubarkan Indonesia. APKLI dan PKL saat ini siaga satu krisisi ekonomi nasional sembari percepat gerilya PKL di semua kawasan ekonomi strategis hadapi MEA 2015," pungkar Ali Mahsun. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya