Berita

Ini Surat Terbuka Kaukus Penyelamat Demokrat ke KPK

JUMAT, 08 MEI 2015 | 21:03 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kaukus Penyelamat Partai Demokrat (KPPD) meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengawasi pelaksanaan Kongres Partai Demokrat. Kaukus berpandangan telah terjadi upaya untuk membuat Kongres Surabaya yang akan di gelar di Surabaya tidak kondusif terhadap praktik tindak pidana korupsi.

Dari hasil pemantuan di lapangan, kaukus mensinyalir kuat adanya indikasi gratifikasi dalam bentuk uang akomodasi kepada para peserta kongres yang sebagian besar adalah penyelenggara negara seperti bupati, wakil bupati, walikota, wakil walikota, maupun anggota DPRD.

Permintaan tersebut disampaikan KPPD melalui surat terbuka yang dikirimkan kepada KPK, hari ini (Jumat, 8/5). Kaukus dideklarasikan beberapa hari lalu oleh sejumlah kader Demokrat yang dipecat oleh DPP yang dikomandoi Susilo Bambang Yudhoyono.


Di dalam surat yang ditembuskan ke Kapolri, Kejaksaan Agung dan Menhukham itu, kaukus juga meminta dilakukan audit keuangan kongres dan dana kepanitiaan kongres. Kaukus ingin apa yang terjadi pada kongres Partai Demokrat di Bandung tahun 2010 yang banyak melahirkan kasus yang ditangani KPK tidak lagi terjadi di Kongres Surabaya yang rencananya diadakan tanggal 11-13 Mei 2015.

Berikut ini surat terbuka KPPD yang dikirim ke KPK;

Kepada Yth,

Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Di -
Jakarta

Dengan Hormat,
Kami dari Kaukus Penyelamat Partai Demokrat (KPPD) dengan ini mengirimkan surat kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dengan penyelenggaraan Kongres Partai Demokrat yang akan berlangsung di Surabaya, 11-13 Mei 2015. Adapun hal-hal yang ingin kami sampaikan sebagai berikut:

1. Berdasarkan apa yang terjadi pada Kongres Partai Demokrat di Bandung tahun 2010 yang mana kemudian melahirkan kasus-kasus yang ditangani KPK, kami kader Kaukus berharap hal tersebut tidak lagi terjadi di Kongres Surabaya yang rencananya diadakan tanggal 11-13 Mei 2015.

2. Bahwa Partai Demokrat yang mengusung semangat Bersih, Santun, dan Cerdas perlu untuk konsisten menegakkan praktek politik yang jauh dari penyimpangan, salah satunya yang terpenting adalah money politics di arena Kongres Surabaya.

3. Bahwa dalam pengamatan kami, telah terjadi upaya untuk membuat Kongres Surabaya tidak kondusif terhadap penyelenggaraan forum demokrasi yang bersih dari penyimpangan (money politics), salah satunya adalah tidak transparannya penyelenggaraan Kongres yang terkesan ditutup-tutupi, termasuk di dalamnya masalah keuangan kongres.

4. Bahwa kami juga memantau adanya indikasi gratifikasi dalam bentuk uang akomodasi kepada para peserta Kongres yang sebagian besar adalah penyelenggara negara (bupati, wakil bupati, walikota, wakil walikota, maupun anggota DPRD).

5. Bahwa berdasarkan pengamatan tersebut perlu dilakukan audit keuangan Kongres dan dana kepanitiaan Kongres.

6. Bahwa kami meminta KPK untuk turun tangan langsung di lapangan, mengawasi proses penyelenggaraan Kongres Partai Demokrat di Surabaya, 11-13 Mei 2015, semata-mata agara Kongres dapat berjalan sesuai koridor yang menjadi acuan Partai Demokrat, yaitu Bersih, santun dan cerdas.

Demikian permintaan dan surat ini kami sampaikan untuk segera ditindaklanjuti, atas nama kader dan pengurus Partai Demokrat sekaligus bagian dari warga negara Indonesia yang anti terhadap korupsi.

Jakarta, 8 Mei 2015
Kaukus Penyelamat Partai Demokrat (KPPD)
Yang Mewakili

1.Dadi Risdaryanto (Ketua DPC PD Kota Surabaya)
2. Basuki (Ketua DPC PD Kabupaten Nganjuk)
3. Moh Iqsan (Ketua DPC PD Kabupaten Purbalingga)
4. Mochamad Rochim (Ketua DPC PD Kabupaten Batang)

Tembusan:
1. Kapolri
2. Kejaksaan Agung RI
3. Menhukham RI.
[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya