Berita

jokowi/net

Akankah Jokowi Rombak Tim Ekonomi?

JUMAT, 08 MEI 2015 | 13:10 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

MENGEJUTKAN! Setelah mendapati data faktual pertumbuhan ekonomi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa hari lalu, ternyata pertumbuhan ekonomi Indonesia dibandingkan periode kuartal yang sama tahun lalu hanya sebesar 4,7 persen.

Hal ini sedikit banyak menggugurkan harapan para pendekar di Tim Ekonomi Jokowi, hampir seluruh pejabat mulai dari Wakil Presiden, Menteri Ekonomi, Menteri Keuangan, meramalkan pertumbuhan akan di angka 5,7 persen .

Jangankan para pemangku kebijakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi dari seluruh lembaga penelitian mengalami kesalahan, dan terlalu berlebih menilai performa ekonomi Indonesia. Dari sekian banyak lembaga, hanya lembaga milik Dradjad Wibowo and Partners dan Credit Suisse yang meramal terdekat yaitu 5,0 persen. Sedangkan yang terlalu jauh menyimpang adalah Merryl Linch sebesar 5,8 persen, yang bahkan melampui proyeksi pemerintah.


Jikapun ada yang "agak" tepat meramalkannya adalah seorang ekonom yang menjadi penasehat ekonomi PBB bersama tiga orang peraih nobel ekonomi. Ekonom ini, yang terkenal sebagai tokoh oposan pelawan neoliberalisme di era SBY, meramal bahwa pertumbuhan ekonomi akan di bawah 5 persen, dan terjadilah.

Pembacaan yang baik terhadap naik turunnya perekonomian global, geopolitik terakhir, dan situasi riil ekonomi nasional membuat tajam peramalan seseorang terhadap masa depan. Jokowi harus berpikir ulang untuk menyerahkan kabinetnya, para pembantu dan pembisiknya, ke pihak-pihak yang pemahaman ekonominya di bawah standar internasional.

Meminjam istilah seorang ekonom dan politisi PDI Perjuangan, yang menurut berita baru menghadap Jokowi di istana, para ekonom yang berada di kabinet saat ini IPK nya masih di bawah 3,5. Atau menurut para pengamat yang lain, para ekonom yang berada di kabinet ini KW 2, atau bahkan KW 3.

Sungguh memalukan bahwa sedikitnya sudah terjadi sejumlah kebijakan yang "balik kanan" atau mengalami U-turn hanya dalam waktu beberapa bulan, sebut saja: kebijakan pelarangan rapat di hotel, kebijakan bebas visa masuk untuk 30 negara, kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah, kebutuhan bahasa Indonesia untuk calon pekerja asing, dan lain-lain. Belum lagi soal pencabutan subsidi BBM Premium yang mungkin menyeret dirinya ke gerbang pemakzulan, hanya karena pemahaman yang kurang dalam para menteri ekonominya tentang Ekonomi Konstitusi.

Pesannya mungkin, Pak Jokowi tidak perlu ragu untuk mengganti pembisiknya bila dirasa bukan orang yang terbaik bagi dirinya. Waktu bukanlah hambatan untuk melakukan perombakan kabinet dalam tempo singkat, bisa dicontoh Yunani yang dalam tempo kurang dari 6 bulan sudah melakukan perombakan tim ekonomi belum lama ini. Karena yang terpenting adalah nasib rakyat Indonesia, akankah Trisakti Bung Karno menaungi jalan kita dalam sisa 4,5 tahun ke depan?

Hanya Pak Jokowi yang memiliki hak prerogatif untuk menjawabnya

Penulis adalah peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP)


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya