Berita

Agung Laksono/net

Wawancara

WAWANCARA

Agung Laksono: Revisi UU Jelang Pilkada, Bisa Timbulkan Kekacauan Politik

JUMAT, 08 MEI 2015 | 09:16 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

DPR mau merevisi UU Parpol dan UU Pilkada di saat tahapan pilkada serentak sudah di depan mata.
 
"Ini lucu-ucuan seperti anak kecil saja, karena KPU tidak melaksanakan rekomendasi Komisi II DPR, lalu mau diubah undang-undangnya," kata Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Ancol, Agung Laksono, kepada Rakyat Merdeka, Rabu (6/5).

Seperti diketahui, Komisi II DPR merekomendasikan Peraturan KPU mengenai pilka­da agar mengacu pada putusan terakhir pengadilan bagi parpol bersengketa. Tapi KPU men­gacu pada parpol yang diakui Kementerian Hukum dan Hak Asasi (Kemenkumham)


Agung Laksono mengatakan, penetapan kepersertaan parpol dalam pilkada serentak berdasar­kan SK Kemenkumham sudah sesuai dengan UU Parpol.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa tanggapan Anda soal revisi UU Parpol dan Pilkada ini?
Mereka mungkin berpendapat UU Parpol dan UU Pilkada seba­gai hulunya, dengan harapan hil­irnya bisa diubah sesuai dengan keinginan kelompok mereka.

Ini harus diwaspadai, apalagi UU itu harus ada keputusan DPR.

Maksudnya?
Perlu diwaspadai usulan mengubah UU ini dalam waktu dekat. Kalau tujuannya untuk kepentingan yang sangat ur­gent, tidak mengapa. Tapi ka­lau tujuannya menguntungkan satu kelompok, dan merugikan kelompok lainnya dan tidak ada manfaatnya bagi masyarakat umum, jangan diikuti.

Anda menilai tidak ada ur­gensinya revisi UU Parpol dan UU Pilkada?
Ya, karena undang-undang ini sudah berjalan dengan baik kok. Sebelumnya juga kan sudah dilakukan perbaikan-perbaikan, terutama dalam mempersiapkan pilkada serentak dan pemilu mendatang. Jangan mengubah undang-undang atas dasar ke­cewa. Jangan pula lahir undang-undang yang sifatnya coba-coba. Jangan jadikan bangsa ini seba­gai laboratorium uji coba.

Kabarnya SK Menkumham sebagai pengesahan parpol akan dihilangkan?
Kalau begitu nanti tidak ada kepastian dong. Bagaimanapun negeri ini kan ada pemerintah. Kalau tidak perlu lagi izin-izin, namanya liar dong. Nanti yang berlaku hukum rimba.

Masak nanti ada satu partai punya 10 kepengurusan. Ini namanya ngawur dan tidak mendidik rakyat.

Apa usulan revisi UU Parpol ini akan mengganggu pilkada?
Bisa mengganggu, setidak-tidaknya orang akan bertanya-tanya, sehingga timbul keraguan nanti. Malah bisa menimbulkan kekacauan politik, baik konflik horizontal maupun vertikal. Nanti yang disalahkan pemer­intah atau para elite politiknya. Baiknya jangan coba-coba.

Kita perbaiki nanti saja. Lagi pula masalah pengesahan mela­lui Menkumham ini tidak ada masalah dan tidak keliru. Proses ini kan sudah berjalan sejak lama dan diikuti.

Anda berbicara begitu, karena diuntungkan?
Buat saya, putusan KPU pun tidak semuanya mengembira­kan. Tapi secara umum kita bisa menerima, terutama sikap KPU yang menyusun PKPU dengan kemandirian, berbasiskan dan berlandaskan pada perundang-undangan yang ada yakni UU Parpol, UU Pilkada dan UU Pemilu. Semua itu harus pakai dasar, bukan sekehendak hatinya saja. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya