Berita

Setya Novanto/net

Wawancara

WAWANCARA

Setya Novanto: Bila Reshuffle Kabinet Dilakukan, Pilih Menteri Secara Teliti dan Jeli

RABU, 06 MEI 2015 | 08:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Isu reshuffle kabinet semakin berhembus kencang set­elah Wapres JK memberikan sinyal perombakan menteri akan dilakukan.

Tapi bekas ketua umum Partai Golkar itu tidak menjelaskan kapan waktunya. "Ya, tentu (re­shuffle) dalam waktu ke depan inilah," ujar JK di kantor Wakil Presiden.

Perombakan ini, menurut JK, penting dilakukan untuk menin­gkatkan kinerja kabinet.


Menanggapi hal itu, Ketua DPR Setya Novanto menyerah­kan urusan perombakan kabinet kepada Presiden Jokowi. Dia bilang, Jokowi yang paling tahu apa pencapaian dan bagaimana kredibilitas serta loyalitas para menterinya.

Simak wawancara dengan Setya Novanto, kemarin:

Apa tanggapan Anda soal reshuffle kabinet yang akan dilakukan Presiden?

Ya, itu merupakan hak prerogatif Presiden. Tentu Jokowi dapat melakukan evaluasi kin­erja berdasarkan program-program yang sedang dilakukan pemerintah.

Evaluasi dari kinerja mak­sudnya?
Ya. Presiden dapat secara cepat melakukan evaluasi pada kinerja kabinet dengan melihat program yang berjalan. Dari situ dapat gambaran, mana menteri yang perlu dievaluasi.

Dengan kerja enam bulan, apa sudah diketahui kinerja menteri?
Tentu Presiden dalam masa enam bulan kerja kabinet su­dah bisa mengetahui kinerja menteri.

Apa yang harus dilakukan Presiden dalam memilih men­teri baru?
Bila reshuffle kabinet dilaku­kan, Presiden Jokowi harus memilih menteri secara teliti dan jeli agar jajaran pembantu di kabinetnya memberi sesuatu yang positif bagi rakyat.

Apa Anda tahu menteri-menteri mana saja yang dinilai layak direshuffle?
Presiden sudah ada catatan­nya. Pokoknya reshuffle adalah hak prerogatif Presiden. Ini kan sudah dievaluasi Presiden dan waktunya sudah enam bulan bekerja. Pasti Presiden sudah tahu mana yang harus dilakukan perombakan, dan mana yang tidak, kita percayakan kepada Presiden.

Apa Anda yakin Jokowi sudah melihat mana menteri yang kredibel dan tidak?
Saya yakin Jokowi sudah mengetahui apa-apa saja yang sudah dilakukan oleh menterinya dan yang belum dilakukan. Selain itu juga Jokowi sudah bisa melihat mana menteri yang kredibel dan loyal.

O ya, bagaimana soal Satgas Anti Korupsi?
Ini tentunya hubungan antara peran KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian. Saya memberikan apresiasi atas pembentukan Satgas itu. Dengan adanya hubungan harmonis ini tentu saya menghargai sikap ke­tiga lembaga ini untuk bisa mengadakan koordinasi kerja sama di dalam Satgas. Dengan adanya Satgas itu tidak ada tumpang tindih dan saling menyalahkan.

Ini suatu gebrakan yang baik, ketiga instansi penegak hukum itu bisa bekerja sama secara baik dalam menangani kasus korupsi. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Jasa Kiai Kampung

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:26

Waketum MUI Usul Gaji Guru Pesantren di Atas UMR

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:16

Jangan Takut Kritik Pemerintah

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:04

Saham BYAN Mencuat, IAW Ingatkan soal Pengawasan Regulator

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:20

Melawan Amplop di Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:08

Program Streamlining Danantara Tak Boleh Identik dengan PHK

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:38

Investor Diajak Terlibat 37 Proyek Investasi Strategis di Jakarta

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:17

Budi Arie Tolak Cabut Analisis Pemilu sebelum 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:02

Jangan Berhenti pada Janji 15 Desember

Minggu, 30 Agustus 2026 | 01:35

Pajak Diduga Bocor Rp5 Triliun, Purbaya Kantongi 40 Nama Perusahaan Baja

Minggu, 30 Agustus 2026 | 01:21

Selengkapnya