Berita

foto:net

Politik

PILKADA SERENTAK 2015

KPU Istiqomah Tidak Ikutsertakan Golkar dan PPP, Apabila..

SELASA, 05 MEI 2015 | 00:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara sekaligus penangggung jawab Pilkada tidak bisa menerima poin 3 rekomendasi Panja Komisi II DPR RI. Yaitu, KPU dapat memutuskan kepengurusan yang berhak mengajukan pasangan calon adalah kepengurusan partai politik yang telah mendapatkan putusan pengadilan terakhir.

Sementara untuk poin 1 dan 2, KPU siap menjalankannya dan sudah diakomodir di Peraturan KPU (PKPU) tentang Pilkada. Poin 1 dan 2 adalah. Pertama, kepengurusan partai politik bermasalah diselesaikan melalui lembaga peradilan (bersifat inkrah). Kedua, jika proses putusan berkekuatan hukum tetap membutuhkan waktu yang panjang, KPU mengusulkan agar dilakukan islah antar kepengurusan partai yang berkonflik, sebelum pendaftaran calon 26-28 Juli.

Komisioner KPU Ida Budhiati mengatakan, pihaknya tidak bisa menerima poin 3 sebagai sebuah norma dalam PKPU karena dalam UU disebutkan bahwa putusan yang berkekuatan hukum tetaplah yang bisa mengikuti Pemilu/Pilkada.


Ia menjelaskan jika belum ada keputusan berkekuatan hukum tetap sampai masa pendaftaran, maka parpol yang bersengketa (Golkar dan PPP) harus berdamai untuk menentukan satu kepengurusan.

"Kalau tak ada inkrah dan perdamaian juga, maka KPU Provinsi dan Kab/Kota tak dapat menerima pendaftaran calon dari parpol yang bersangkutan Golkar dan PPP)," ujar Ida, Senin (4/5).

Dalam rapat konsultasi antara pimpinan DPR, Komisi II , Poksi dan Fraksi dengan komisioner KPU bersama dengan pemerintah, Senin siang (4/5), disepakati tiga poin.

Pertama, DPR tetap merekomendasikan usulan yang selama ini diajukan oleh Panja Komisi II agar dimasukkan dalam PKPU. Kedua, DPR akan mencari jalan untuk membuat landasan hukum agar rekomendasi ini bisa diakomodir, melalui revisi terbatas atas UU Parpol dan UU Pilkada. Ketiga, DPR akan berkoordinasi dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi terkait percepatan penyelesaian konflik internal partai. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya