Berita

Bangun Kekuatan Politik Alternatif Rakyat Pekerja!

JUMAT, 01 MEI 2015 | 05:16 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA



Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia mendukung perlawanan gerakan buruh memperjuangkan kesejahteraan melalui peringatan May Day. Tak dapat dipungkiri, meski telah lama diperjuangkan oleh para buruh, namun hingga kini mereka belum menikmati hasilnya. Jam kerja yang panjang, upah yang minim serta kondisi kerja yang buruk masih dirasakan oleh para buruh di Indonesia.

"Kami sangat mendukung perlawanan gerakan buruh memperjuangkan kesejahteraan. Sistem kerja kontrak dan outsourcing serta politik upah murah harus dihapuskan," kata Presiden Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia, Anwar "Sastro" Maruf dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Kamis (30/4).     


Dikatakan, perlawanan untuk menghapus sistem kerja kontrak dan outsourcing serta politik upah murah harus terus dilakukan. Jangan berhenti berjuang karena terbukti dengan perjuangan buruh yang solid dan besar dalam beberapa hal sudah membuah hasil. Ditetapkannya 1 Mei sebagai hari libur nasional pada tahun 2013 merupakan contoh dari hasil perjuangan tersebut. Selain itu, upah minimum di beberapa provinsi yang mencapai 30%-40% juga merupakan hasil dari perjuangan para buruh.

"Untuk itu menjadi penting untuk membangun kembali konsolidasi-konsolidasi gerakan buruh untuk memperkuat perjuangan meraih kesejahteraan. Memperkuat perlawanan buruh melalui perluasan dan persatuan organisasi-organisasi gerakan buruh tetap harus dilakukan sehingga hasil-hasil yang diperoleh oleh gerakan buruh semakin banyak dan meluas," kata Anwar.

Wakil Presiden Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia Sapei Rusin menambahkan, untuk mencapai kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia tentu tidak cukup hanya memperkuat kekuatan gerakan buruh. Persatuan antara gerakan-gerakan rakyat multisektor harus mulai dilakukan. Penyatuan gerakan buruh, tani, nelayan, rakyat miskin kota, perempuan, masyarakat adat dan mahasiswa harus mulai digalakkan.

Walaupun permasalahan di berbagai sektor masyarakat berbeda-beda, namun akar permasalahan tetap sama yaitu Neoliberalisme-Kapitalisme. Sistem kerja kontrak dan outsourcing, politik upah murah, perampasan lahan, reklamasi pantai, pengkaplingan lahan tangkap ikan, penggusuran, diskriminasi terhadap perempuan, serta biaya pendidikan yang tinggi merupakan contoh-contoh masalah yang muncul akibat praktek Neoliberalisme-Kapitalisme.

"Konsolidasi gerakan multisektoral menjadi penting untuk dilakukan pada saat ini. Jelas, gerakan buruh tidak bisa melakukan perlawanan sendirian terhadap kekuasaan Neoliberalisme-Kapitalisme. Karena itu kami mendorong untuk membangun kekuatan politik alternatif melalui persatuan gerakan rakyat multisektor," katanya.

Ditambahkannya, persatuan gerakan rakyat multisektor menjadi sesuatu yang wajib dilakukan oleh seluruh gerakan rakyat. Gerakan rakyat multisektor tersebut juga harus berubah wujud menjadi gerakan politik. Hal ini penting karena seluruh penindasan yang dilakukan pemilik modal melalui kebijakan-kebijakan yang dimunculkan oleh negara.

"Kami mendukung sepenuhnya inisiatif pembangunan partai politik alternatif yang dilakukan oleh gerakan rakyat. Bangun persatuan dan solidaritas seluruh elemen rakyat untuk mewujudkan kedaulatan, kemandirian dan kesejahteraan sejati bagi seluruh rakyat Indonesia," demikian Sapei.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya