Berita

marzuki alie/net

KONGRES DEMOKRAT

Marzuki Alie: Tidak Perlu Saling Ancam dalam Kongres Demokrat

RABU, 22 APRIL 2015 | 08:23 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Marzuki Alie berharap Kongres III Partai Demokrat bisa berjalan dengan baik, tanpa rekayasa, dan benar-benar menegakkan nilai-nilai demokrasi sehingga menjadi contoh praktek demokrasi yang sehat dalam perjalanan bangsa membangun demokrasi untuk kesejahteraan rakyat.

"Kongres ini pesta demokrasi internal partai, tidak perlu saling ancam. Jangan ada benturan yang keras antar kader, yang bisa memecahbelah persatuan dan kesatuan PD. Saling menghormati, dan setelah Kongres mari kita bersatu kembali membesarkan PD dan menang pemilu 2019," kata Marzuki Alie saat dihubungi beberapa saat lalu (Rabu, 22/4).

Marzuki Alie mengaku sudah berkomunikasi langsung dengan Ketua Harian Demokrat Syarif Hasan melalui sambungan telepon. Dalam komunikasi itu, Syarif Hasan berjanji dan menjamin tidak akan ada lagi pemecatan Ketua DPC, kecuali yang memang bermasalah hukum, meninggal atau mengundurkan diri.


Saat ditanya keyakinannya bisa memenangkan Kongres, dengan rendah hati Marzuki mengakui bila memang SBY maju lagi sebagai Ketua Umum maka itu akan sulit dibendung. Namun demikian, Marzuki yakin SBY akan memenuhi janjinya yang hanya mengantarkan Demokrat sampai Kongres III.

"Saya yakin dengan janji seorang pemimpin. Apalagi SBY yang sangat saya hormati," ungkap Marzuki, sambil meminta SBY tetap menjadi figur pemersatu, inspirator dan pengayom Demokrat sesuai harapan kader dalam survei yang ia lakukan.

Terkait dengan langkah pemenangan, Marzuki menjawab diplomatis dan mengatakan mengalir saja sebagaimana perintah Allah SWT. Lebih-lebih jabatan merupakan amanah yang tak boleh dikejar, namun juga tak boleh ditolak. Ia hanya memastikan sudah punya modal dasar, yaitu 150 militansi pendukung MA, sebutan untuk Marzuki Alie, yang loyal mendukung saat Kongres II di Bandung.

"Semua bergerak door to door menemui kader yang saat ini mendukung MA tapi dalam suasana ketakutan. Insya Allah akan memenuhi persyaratan yang akan ditetapkan di tatib," demikian Marzuki.

Selasa malam (21/4), militansi MA memang sudah mulai berdatangan ke Jakarta, dan meminta MA untuk siap dicalonkan sebagai Ketua Umum PD 2015-2020. Koordinator Tim Sukses Marzuki Alie wilayah Kalimantan, Samuel Purba, mengatakan bahwa sudah saatnya ada regenerasi kepemimpinan Demokrat dengan kader yang lebih muda dan teruji berjuang membesarkan Demokrat sejak awal.

"SBY seharusnya memberikan kesempatan kepada kader terbaiknya hasil pembinaan beliau, yaitu MA mantan sekjen PD 2005-2010, Sekretaris Pemenangan Pilpres SBY-Boediono, Ketua DPR 2009-2014 dan saat ini Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat," ungkap Samuel, sambil mengingatkan lagi bahwa dalam KLB di Bali SBY juga sudah berjanji akan memberikan kesempatan kepada generasi penerus untuk melanjutkan kepemimpinan.

"Momentum saat ini sangat baik bagi SBY untuk melakukan regenerasi karena beliau masih cukup kuat sebagai pemersatu di partai, mendampingi Ketua Umum hasil kongres 2015, sampai nantinya beliau benar-benar mundur dari dunia politik. Kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau tidak MA siapa lagi," ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang militansi dari daerah Jawa Timur menyatakan siap dipecat untuk memenangkan MA sebagai Ketum PD 2015-2020. Sebab MA bersih dan kemampuannya sudah teruji. Ia pun memastikan akan memberikan dukungan tertulis kepada MA, dengan tanpa paksaan dan tanpa diminta. ia juga mengungkapkan bahwa semakin hari, dukungan kepada MA dari Jawa Timur semakin kuat.

Sedangkan salah seorang Ketua DPC dari Sumatera Utara menyatakan bahwa dia tidak meminta apapun kepada MA. Ia mendukung MA karena dinilai sangat paham dalam berpolitik, dan tidak pernah putus berkomunikasi dengan kader, baik melalui telepon ataupun SMS.

"Mana ada elit di PD yang mau berkomunikasi langsung kecuali MA, bukan hanya saat mau maju sebagai Ketum tapi sudah teruji sejak MA menjadi Sekjen sampai dengan saat ini," ungkapnya. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya