Berita

mega-jokowi/net

Dipastikan Terkuak Orang yang Mainkan Isu Menghancurkan Hubungan Mega-Jokowi

SELASA, 21 APRIL 2015 | 08:45 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Mantan Anggota Pokja Komunikasi Tim Transisi Jokowi-JK, Michael Umbas, mengatakan, ada sejumlah pihak ditengarai sedang memainkan skenario untuk menghantam Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan selaku partai pengusung Jokowi-JK.

"Berbagai manuver dilakukan dengan mendramatisir isu seolah-olah Megawati sedang mendikte dan mengatur Presiden Jokowi," sebut dia di Jakarta, Selasa (21/4).

Menurut Umbas, upaya mendelegitimasi PDIP sudah sangat jelas dilakukan para mafia dan pemburu rente yang memanfaatkan situasi melalui orang tertentu di sekitar Jokowi.


"Saya hadir di Kongres PDIP dan melihat sendiri apa yang terjadi di dalam berbeda jauh dengan interpretasi pengamat dan media. Analisa sepotong-sepotong lalu dikreasi untuk menghantam Megawati dan PDI Perjuangan yang dianggap menyerang Presiden Jokowi," katanya.

Jelas dia, Jokowi selama acara kongres menikmati suasananya dan bahkan sadar betul bahwa acara itu memang forum tertinggi partai dan ketua umum berhak menyampaikan pidato di hadapan para kader partai.

"Itu resmi internal partai dan mekanisme partai yang dianut PDIP dimana Pak Jokowi sebagai salah satu kader sama dengan Ganjar Pranowo, Tjahjo Kumolo dan lain-lain. Kalau para pengamat menerjemahkan secara dramatis itu jelas salah konteks," ujar Umbas yang juga penulis buku Solusi Jokowi.

Bahkan, usai pidato Megawati pertemuan antara Jokowi dan para pengurus DPD PDIP se-Indonesia ada perbincangan yang hangat sebagai satu keluarga besar. "Pak Jokowi bicara panjang. Ada bercanda dan guyonan, suasana sangat cair. Tapi kan itu tidak ditayangkan dan diberitakan media," bebernyanya.

Umbas berharap pihak yang sengaja memainkan isu menghancurkan hubungan Jokowi dan Megawati segera menghentikan manuvernya.

"Nanti akan terkuak dan pasti akan memalukan karena mereka inilah mafia yang dulu kami identifikasi dan lawan saat mengusung Pak Jokowi sebagai presiden," tukasnya. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya