Berita

Ferry Juliantono/net

Wawancara

WAWANCARA

Ferry Juliantono: Politik Pencitraan Membuat Rakyat Semakin Muak Terhadap Pemerintah

SENIN, 20 APRIL 2015 | 09:35 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ada yang menarik ketika diumumkan Pengurus Baru DPP Partai Gerindra saat pelantikan di kantor Partai Gerindra beberapa waktu lalu.
 
Aktivis demokrasi Ferry Juliantono masuk dalam jajaran pimpinan partai yang dikomando Prabowo Subianto itu. Tak tanggung-tanggung, bekas aktivis mahasiswa itu menjadi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra.

Berikut wawancara dengan Ferry Juliantono yang pernah menjadi tahanan politik karena menentang kenaikan harga ba­han bakar minyak (BBM) saat pemerintahan SBY itu;


Bagaimana prosesnya sam­pai anda ditunjuk Prabowo Subianto menjadi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra?
Saya ikut perintah saja. Saya masuk ke Partai Gerindra me­mulainya sebagai anggota bi­asa. Kemudian setahun lalu saya diberi kepercayaan menjadi Ketua Partai Gerindra di Provinsi Jawa Barat, beberapa bulan sebelum Pemilu Legislatif 2014.

Prioritas tugas Anda ketika itu?
Tugas saya saat itu melakukan pembenahan partai sampai ke tingkat desa. Alhamdulillah hasil Pemilu Legislatif lalu menun­jukkan peningkatan yang sig­nifikan perolehan kursi dan suara Partai Gerindra. Bahkan saat Pilpres 2014, saya yang saat itu menjadi Sekretaris Pemenangan Prabowo-Hatta di Provinsi Jawa Barat, berhasil memenangkan suara Prabowo-Hatta di Jawa Barat sampai dengan 60 persenmengalahkan Jokowi-JK.

Apa tidak mengalami kesu­litan mengelola partai sedangkan Anda terkenal sebagai demonstran?
Memang harus cepat me­nyesuaikan diri dengan kultur partai, tetapi prinsip-prinsip ber­organisasi sebenarnya sama di mana pun. Yakni didukung oleh tim yang kuat dan manajemen pengelolaan yang harus efektif. Beruntungnya saya sudah biasa turun ke masyarakat, sehingga kebiasaan ini saya juga lakukan ke struktur partai sampai ke tingkat desa-desa.

Saya menjalani tanggung jawab ini dengan rileks dan ter­buka, dan ini juga berpengaruh terhadap dukungan dari struktur partai, sayap partai serta dari kader simpatisan partai di Jawa Barat.

Apa tugas Anda sebagai Wakil Ketua Umum Partai Gerindra?
Kalau tidak salah saya membidangi Propaganda dan Penggalangan Massa, he-he-he. Mungkin karena figur dan karakter saya cocok ditem­patkan di situ. Tetapi bisa jadi bidang ini adalah bidang yang diperlukan untuk mengkon­solidasikan dukungan dari ber­bagai sektor kehidupan maupun tokoh masyarakat yang ada untuk pengembangan partai dan pemenangan Pemilu 2019. Mudah-mudahan bidang ini bisa memberikan kontribusi pada kemenangan partai serta khusus­nya bermanfaat bagi negara dan rakyat Indonesia.

Bagaimana pandangan Anda terhadap perkembangansituasi politik saat ini?
Seperti disampaikan Bapak Prabowo dalam pidato saat pelan­tikan tentang ancaman terhadap ideologi bangsa dan kepentingan ekonomi nasional serta ancaman terhadap demokrasi.

Saat ini lebih banyak dis­kursus atau wacana saja, tapi tidak berpengaruh terhadap rakyat. Kesadaran politik elite dan masyarakat menjadi kesa­daran artifisial. Kesadaran rakyat harus dibangunkan kembali untuk sadar kepada persoalan yang sebenarnya terjadi.

Maksudnya apa?
Ya, contohnya masih ada kemiskinanan yang meluas, kes­enjangan sosial ekonomi makin lebar. Isu penting seperti reformasi di bidang agraria untuk mengatasi ketimpangan penguasaan lahan dan kepemilikan, kebijakan indus­tri, perdagangan dan perburuhan semakin tidak jelas. Semakin condong kepada mekanisme pasar yang sangat bebas. Hal ini tidak sesuai dengan Pancasila.

Ditambah lagi dengan politik pencitraan yang sudah semakin jauh dari kenyataan dan rekam jejaknya membuat rakyat se­makin muak terhadap pemer­intah. Kesadaran rakyat harus diisi dengan hal-hal yang lebih substantif dan ideologis.

Pemerintahan Jokowi-JK kan sudah memiliki Nawacita, ini bagaimana?
Tanya saja ke rakyat sudah benar atau belum nawacitanya. Saya kira kok semakin banyak sikap kritis dari masyarakat yang sekarang mengemuka terhadap pemerintahan saat ini. Kalau pemerintah tidak sadar soal ini, gerakan protes akan semakin meluas. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya