Berita

joko widodo/net

Politik

GIB: Dialog Mahasiswa dan Jokowi Harus Terbuka dan Setara

MINGGU, 19 APRIL 2015 | 20:19 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Meskipun diyakini tidak akan ada manfaatnya, tapi dialog para pembesar Istana Presiden dengan tokoh pergerakan dari sejumlah perguruan tinggi dan pimpinan organisasi ekstra kampus yang akan digelar Selasa pekan depan (21/4) itu, tetap memiliki arti penting dan positif.

Hal ini disampaikan tokoh Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi kepada wartawan Kantor Berita Politik RMOL petang ini di Jakarta (19/4).

Adhie menepis kecurigaan sejumlah pihak yang menganggap pertemuan itu upaya membungkam gerakan kampus yang mulai bergelombang melawan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang dianggap sudah mengingkari janji-janjinya dalam pemilu, dan lebih mengabdi kepada kehendak asing.


"Gerakan kampus sekarang ini tidak bisa lagi dibungkam seperti di era SBY. Mereka sudah letih melihat para pembesar negara dan kaum priyayi (elite) politik terus membohongi rakyat yang faktanya sekarang kian menderita akibat pemerintah membiarkan harga-harga kebutuhan hidup terus melonjak," katanya.

Apalagi, menurut Adhie, kalangan kampus sekarang ini disuguhi pemandangan tak sedap mengenai korupsi. Karena Istana bukan saja melakukan pembiaran, tapi turut ambil bagian dalam penumpulan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam melawan koruptor.

"Jadi persoalannya bukan pada pembungkaman gerakan kampus, tapi pertemuan para pembesar Istana dengan tokoh pergerakan kampus itu rawan dipelintir. Kalau pihak Istana memelintir fakta (pertemuan), para aktivis kampus itu tak akan sanggup menetralisirnya," masih kata dia.

Makanya, untuk mengantisipasi adanya manipulasi hasil pertemuan Istana, mereka harus meminta penyelenggara (Watimpres) agar membuat "dialog itu bersifat terbuka dan setara".

Adhie menambahkan, jangan pertemuan ini dijadikan forum penjelasan (policy) pemerintah dan mengecoh, sebagaimana dilakukan Istana kepada para pengamat politik senior LIPI pekan lalu.

"Apabila pertemuan itu dibuat menjadi semacam dialog terbuka, selain untuk menghindari fitnah terhadap mereka, masyarakat kampus juga jadi bisa melihat kualitas pimpinan mereka saat menghadapi penguasa yang punya seribu janji," demikian Adhie. [dem]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

UPDATE

Polri Didesak Usut Donatur Penyebar Hoaks Kerusuhan Agustus

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:47

Zelensky Klaim 50 Ribu Tentara Korut Sedang Dalam Perjalanan ke Rusia

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:24

Ekonomi Indonesia Mustahil Saingi Vietnam jika Abaikan Sektor Luar Negeri

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:23

Rezim Hubungan Industrial Maritim Indonesia Belum Terintegrasi

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:14

KPK Kuliti Ahmad Dedi Usut Dugaan Pengaturan Jalur Merah-Hijau Impor Blueray

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:51

Iran Waspadai Pakta Pertahanan Mekkah Bentukan Turki, Saudi, dan Pakistan

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:29

Kejari Tanjung Perak Bantah Isu Pemerasan 6 Eks Pejabat Pelindo dan APBS

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:36

Penguatan Kopdes Merah Putih Kunci Kemandirian Ekonomi Papua

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:08

Turki Tegaskan Pakta Pertahanan Mekkah Dibentuk Bukan untuk Hadapi Iran

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:53

Usai Putusan MK, Siaga 98 Dorong Penataan BGN Lewat Perpres Baru

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:36

Selengkapnya