Berita

miryam s haryani/net

Politik

Kemenhub Harus Serius Benahi Penerbangan Indonesia

JUMAT, 17 APRIL 2015 | 23:40 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Komisi V DPR yang membidangi perhubungan dan transportasi ikut bersuara atas insiden pesawat Batik Air dengan penerbangan Ambon menuju Jakarta yang mendapat teror bom melalui pesan singkat atau SMS. Pesawat dengan nomor penerbangan PK-LAG ID-6171 itu seketika langsung mendarat darurat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Jumat (17/4) pukul 07.20 WITA usai mendapat teror.

Pasalnya, jauh sebelum adanya ancaman bom tersebut, Komisi V sudah meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk membenahi semua jenis transportasi di Indonesia.

"Jauh sebelum ancaman bom ini muncul, saya selaku mitra Kementerian Perhubungan sudah meminta pembenahan secara menyeluruh ini dari lama tapi nampaknya proses itu berjalan sangat lambat," kata anggota Komisi V DPR Miryam S Haryani saat ditemui di gedung DPR, Senayan, Jakarta (Jumat, 17/4).


Pembenahan yang tak kunjung dilakukan, lanjutnya, membuat seakan persoalan yang terjadi pada perhubungan udara Indonesia tidak ada habisnya. Mulai dari tragedi AirAsia, peristiwa delay LionAir, lalu kasus penumpang gelap rute Pekanbaru menuju Jakarta beberapa waktu lalu.

"Yang lalu sekarang Batik Air dengan ancaman bomnya. Hal ini menunjukkan bahwa ada hal serius yang harus dibenahi oleh pemerintah, dalam hal ini Kemenhub terkait dengan perhubungan udara. Semua masalah yang muncul harus diselesaikan dengan tuntas ke akarnya, bukan hanya pada persoalan yang tampak di permukaan," papar dia.

Ketua DPP Hanura itu menjelaskan, beberapa hal yang harus mendapat perhatian bagi kemenhub antara lain persoalan keamanan bandara dan keamanan penerbangan. Persoalan ini kata dia, tidak hanya pada hal teknis sebatas pesawat layak terbang atau tidak.

"Juga pada kondisi non teknis seperti pengamanan bandara agar jangan sampai ada penumpang gelap, dan juga barang bawaan penumpang atau pemeriksaan kabin pesawat yang ketat. Agar ancaman seperti ini sudah bisa kita antisipasi. Mungkin ini lebih kepada SOP dan prosedur tapi tetap penting," tandasnya. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya