Berita

Dede Yusuf

Wawancara

WAWANCARA

Dede Yusuf: Pewangi Ruangan Harganya Rp 40 Ribu, Rp 2,3 Miliar Per Tahun Terlalu Besar

RABU, 15 APRIL 2015 | 08:01 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

DPR kembali menjadi sorotan. Gara-garanya DPRmen­ganggarkan pengadaan pengharum ruangan yang menelan dana hampir Rp 2,3 miliar per tahun.

Tapi tidak dijelaskan dengan rinci bentuk dan jumlah peng­harum ruangan yang akan digu­nakan. Ini yang menjadi pertanyan, kenapa ditutup-tutupi?

Selain anggaran Rp 2,3 miliar untuk pengharum ruangan, ada juga anggaran pemeliharaan, pera­watan medis, dan pemberian pa­kan rusa mencapai Rp 650 juta.


Menanggapi hal itu, Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf mengaku tak setuju dengan pembelian pengharum ruangan, itu terlalu berlebihan. Dia mengaku kaget begitu mengetahui ang­garan tersebut.

"Anggaran pengharum ruan­gan gedung DPR yang mencapai Rp 2,2 miliar lebih pada 2015 harus diaudit. Jangan sampai anggaran disimpangkan oknum tertentu, tetapi DPR yang jadi tunggangan," kata Dede Yusuf, di Gedung DPR, kemarin.

"Anggaran pewangi ruangan yang mencapai lebih Rp 2,2 miliar itu pantas dipertanyakan dan dipantau. Apa memang be­nar anggaran setahun untuk pe­wangi ruangan mencapai biaya sebesar itu," tambah bekas Wakil Gubernur Jawa Barat tersebut.

Berikut wawancara dengan Dede Yusuf selengkapnya:

Apa BPK sudah diminta untuk mengaudit?
Anggaran pengharum ruangan itu pantas diaudit. Apa yang di­lakukan di Sekretariat Jenderal ini perlu dipantau dan perlu diaudit. Apakah benar ini untuk pewangi saja per tahun sebesar Rp 2,3 miliar.

Menurut Anda rasional?
Ya, coba Kita lihat misalnya pewangi yang elektrik yang dipakai untuk ruangan kita. Itu harganya sekitar Rp 40 ribu sampai seratus ribuan. Nah, itu dikalikan saja berapa ratus ru­angan yang ada di sini (Gedung DPR). Rasanya nggak mungkin sampai segitu besar ya. Kecuali kalau memang kamarnya per lima menit ada wangi-wangian.

Menurut Anda, anggaran sebesar itu digunakan untuk apa?
Kalau saya sih terus terang aja sebagai anggota DPR saya akan mengomentari masalah soal fasilitas WC kamar mandi ban­yak yang mampet. Mungkin juga tempatnya kurang tertata dengan baik. Saya kira jauh lebih baik anggaran itu digunakan ke situ. Kalau WC diperbaiki, publik yang datang ke Gedung DPR juga bisa menikmatinya. Saya rasa bagus lebih ke situ gunakan anggaran itu daripada wangi-wangi ruangan itu.

Kalau biaya perbaikan ru­mah dinas?
Kalau kami anggota menda­patkan biaya listrik, kebersihan, dan telekomunikasi Rp 3 juta sebulan. Saya pikir itu wajar.

Sedangkan biaya pemeli­haraan, bagaimana?
Biaya perawatan rumah itu yang mengelola Setjen DPR. Sejauh ini, menurut saya masih wajar. Tapi kalau ada yang tidak wajar, bisa juga diaudit.

O ya, apa tanggapan Anda soal polisi parlemen?
Saya belum tahu seperti apa polisi parlemen itu. Apakah ada polisi khusus di parlemen. Ini belum jelas. Apakah pamdal yang ada tidak bisa diberlaku­kan, atau bagaimana.

Apa pantas rumah rakyat dijaga super ketat begitu?
Ketika saya sebagai peja­bat eksekutif dulu, ada usulan pengamanan. Tapi rasanya na­manya rumah rakyat (Gedung DPR) pengamanan itu tidak usah sampai terlalu ketat seperti menjaga rumah duta besar.

Anda tidak setuju?
Ya, karena ini adalah rumah aspirasi. Kalau menurut sa­ya, rumah aspirasi atau rumah rakyat cukup pamdal saja yang menjaga. Kalaupun ada demo kita juga akan bisa menggerak­kan kawan-kawan yang ada dari Polda untuk berjaga seperti sudah sering dilakukan. Kalau ada polisi khusus untuk menjaga Gedung DPR, nanti lama-lama kita berpikir Gedung DPR atau gedung rakyat itu seperti gedung penjara. Karena di mana-mana ada polisi. Saya kira itu nggak perlu. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Prabowo Bidik Produksi Sedan Listrik Nasional Mulai 2028

Kamis, 09 April 2026 | 16:15

Program Magang Nasional Tidak Tersentuh Efisiensi

Kamis, 09 April 2026 | 15:56

BGN Siap-siap Dicecar DPR soal Pengadaan Motor Listrik MBG

Kamis, 09 April 2026 | 15:41

Gedung Kementerian PU Mendadak Digeledah Kejati DKI

Kamis, 09 April 2026 | 15:33

Gibran Dukung Hakim Ad Hoc di Persidangan Andrie Yunus

Kamis, 09 April 2026 | 15:21

Purbaya Sebut World Bank Salah Hitung soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:19

Prabowo Dorong VKTR Jadi National Champion Industri Otomotif RI

Kamis, 09 April 2026 | 15:08

Jalan Merangkak Demokrasi Indonesia

Kamis, 09 April 2026 | 15:01

Gibran Ajak Deddy Sitorus Sama-sama Berkantor di IKN

Kamis, 09 April 2026 | 14:37

Susun RUU Ketenagakerjaan, Kemnaker Serap Aspirasi 800 Serikat Buruh

Kamis, 09 April 2026 | 14:30

Selengkapnya