Berita

ANDI ARIEF/net

Andi Arief: Anomali Ekonomi atau Salah Perhitungan Sama-sama Beresiko

RABU, 01 APRIL 2015 | 10:34 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Melalui APBN Perubahan 2015 yang disahkan minggu ketiga Februari lalu, Jokowi-JK sudah mengelola anggaran pendapatan dan belanja. Sejumlah asumsi diubah, misalnya pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7 persen, laju inflasi 5 persen, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 12.500 per dolar.

"Berubahlah postur APBN-P 2015. Dari pendapatan negara dan hibah menjadi Rp 1.761,6 triliun," kata mantan Staf Khusus Presiden era SBY, Andi Arief dalam keteranganya kepada redaksi (Rabu, 1/4).

Target penerimaan pajak ditambah Rp 109,3 triliun atau sebesar 7,9 persen dari APBN, total menjadi Rp 1.489,3 triliun.


"Awalnya Jokowi mewacanalan menambah target Rp 600 triliun. Entah apa pertimbangannya, karena ada fakta rupiah melemah, pertumbuhan alami pelambatan dan lain-lain," sebut Andi.

Dirjen Pajak merilis realisasi pendapatan pajak triwulan pertama 2015 yang cukup mengejutkan. Realisasinya sangat drop di angka Rp 170 triliun atau hanya 13 persen dari Rp 1.489,3 triliun.

"Ada apa dengan ekonomi kita? Ini tidak normal jatuh di 13 persen," sambung Andi.

Sebagai perbandingan, realisasi penerimaan pajak kuartal pertama 2014 mencapai Rp 281 triliun atau sebesar 25,4 persen dari target yang ditetapkan APBN sebesar Rp 1.110,2 triliun. sepanjang kuartal I/2013, penerimaan negara dari perpajakan mencapai Rp 220,5 triliun atau sekitar 18,4 persen dari target dalam APBN 2013 sebesar Rp 1.192,9 triliun.

"Angka tersebut masih melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal I/2012 yang berada pada level 18,72 persen. Nah, pelambatan pertumbuhan ekonomi 2015 bisa tergambar di angka 13 persen pendapatan pajak yang belum pernah terjadi minimal 10 tahun ini. Mudah-mudahan ini bisa diantisipasi dan dievaluasi. Anomali ekonomi atau salah membuat perhitungan? Dua-duanya beresiko," demikian Ando. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya