Berita

Arief Poyuono/net

BBM NAIK LAGI

Ketua Gerindra: Jokowi Dodolin Rakyat terkait Harga BBM

MINGGU, 29 MARET 2015 | 14:18 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Presiden Jokowi dengan tim ekonominya sudah lima bulan bekerja, namun tanda-tanda perbaikan terhadap kesejahteraan masyarakat belum juga terlihat.

Hal ini bisa dipotret dari kenaikan harga-harga bahan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng, ongkos transportasi yang meningkat tinggi, kurs rupiah yang makin jeblok, dan lesunya dunia usaha sektor riil, serta tingginya pengangguran terbuka dan banyak PHK.

Demikian disampaikan Ketua DPP Partai Gerindra, FX Arief Poyuono dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu (29/3).


Begitu juga dengan enam paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Jokowi juga tidak optimal malah dicampakan oleh Pertamina, Freeport dan perusahaan-perusahaan pertambangan milik asing lainnya yang telah diberi izin untuk melakukan eksport konsetrat oleh Jokowi dengan melanggar UU dan menipu rakyat Indonesia.

"Kebijakan ekonomi Jokowi yang ditolak mentah-mentah yaitu keharusan perusahaan yang melakukan ekpor diwajibkan melakukan penerimaan LC Eksport di bank yang ada di dalam negeri. Kebijakan ini ditolak oleh perusahaan asing yang eksport oriented," beber Arief Poyuono.

Sementara dengan APBN yang defisit yang berakibat pada defisit ruang fiskal, Presiden Jokowi cuma bisa mencari untung melalui penjualan BBM premium kepada masyarakat yang sudah tidak disubsidi lagi. Ini dia bukti Jokowi dodolin alias menipu masyarakat dengan harga BBM yang dinaikan menjadi Rp 7.400 pe rliter, dan Pertamia mengaku rugi 35 juta dolar pada bulan Januari 2015.

Menurut Arief Poyuono, ada ketidakberesan terkait harga BBM yang dinaikan dan kerugian Pertamina itu. Sebab, pada bulan Januari harga minyak dunia rata-rata MOPS dan WTI di bawah 50 dolar AS per barrel dengan kurs rupiah 12500 per dolar AS. Sehingga harga BBM Premium didapat dengan harga minyak mentah 50 dolar AS per barrel ditambah 10 persen dari harga minyak dunia sebagai cost refinery ditambah 5 persen biaya distribusi, fee agen dan penyimpanan dan Pajak Bahan Bakar dan Pajak Pertambahan Nilai 10 persen, maka harga BBM premium yang harus dijual menjadi 65 dolar AS atau 845000 rupiah per barel atau Rp. 5.748 per liter.

"Dengan harga BBM sekarang Rp 7.500 per liter, Pertamina yang ngaku rugi, tidak cukup beralasan. Dan Jokowi dodolin masyarakat," ujar Arief Poyuono.

Ia menambahkan, dengan kenaikan harga BBM, maka enam paket kebijakan ekonomi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan penurunan harga-harga kebutuhan barang pokok tidak akan berhasil, justru akan meningkatkan inflasi dan penurunan daya saing produk ekpor yang dihasilkan industri nasional. [rus]

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Brimob Polda Metro Jaya Bubarkan Balap Liar di Pulogadung

Minggu, 17 Mei 2026 | 14:17

Istana Ungkap Cadangan Beras di Bulog Tembus 5,3 Juta Ton

Minggu, 17 Mei 2026 | 14:04

Kasasi Bisa Perjelas Vonis Banding Luhur Ditambah Beban Uang Pengganti

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:45

Putusan MK soal IKN Dianggap Beri Kepastian Hukum

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:39

“Suamiku Lukaku” Angkat Luka Perempuan Korban KDRT

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:14

Prabowo Minta Pindad Rancang Mobil Presiden Khusus untuk Sapa Rakyat

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:14

Penyederhanaan Sistem Partai Tak Harus dengan Threshold Tinggi

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:10

Nasabah PNM Denpasar Sukses Ubah Sampah Pantai jadi Cuan

Minggu, 17 Mei 2026 | 12:59

Hukum yang Layu: Saat Keadilan Kehilangan Hati Nurani

Minggu, 17 Mei 2026 | 12:43

Andrianto Andri: Tokoh Sumatera Harus Jadi Cawapres 2029

Minggu, 17 Mei 2026 | 12:11

Selengkapnya