Berita

hidayat nur wahid/net

Gebrakan untuk Generasi Muda Ala HNW

KAMIS, 26 MARET 2015 | 09:51 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Sosialisasi Empat Pilar MPR RI (Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara dan Ketetapan MPR RI, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara) makin gencar dilaksanakan MPR di berbagai elemen masyarakat.

Rabu kemarin (25/3 ), sosialisasi digelar bersamaan dengan diselenggarakannya seminar kebangsaan tema 'Indonesia Harmoni' kerjasama MPR RI dengan Dewan Pengurus Pusat  Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM). Acara yang diselenggarakan di Aula Gedung DPP Muhammadiyah, Jakarta ini diikuit sekitar 200 orang peserta mahasiswa, dengan menampilkan tiga orang tokoh nasional sebagai narasumber pemberi materi sosialisasi yakni Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Tokoh Nasional Akbar Tanjung dan Pimpinan Fraksi Nasdem MPR RI Prof. Bachtiar Aly.

Dalam pemaparan pertamanya di depan para peserta mahasiswa IMM, HNW sapaan akrabnya, menjelaskan tentang gerakan MPR yang bernama Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, dari awal terbentuknya di era kepemimpinan MPR RI di pegang almarhum Taufiq Kiemas, sosialisasi bernama 'Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika).


Pemilihan nama tersebut, menurut HNW, hanya sekedar agar mudah diingat masyarakat sekaligus terdengar ear caching/enak didengar. Namun, ada elemen masyarakat yang melakukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK) tentang nama Empat Pilar Berbangsa tersebut. Elemen masyarakat yang menggugat tersebut beranggapan penyebutan Pancasila sebagai pilar adalah salah.  Gugatan ini kemudian dikabulkan MK, dan MPR tidak lagi memakai nama tersebut dan berganti nama menjadi Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Di periode 2014-2019 ini, MPR melakukan diskusi khusus dengan Mahkamah Konstitusi dan dari hasil diskusi tersebut, MPR memutuskan secara resmi untuk memakai nama sosialisasi menjadi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI.

Sosialisasi yang dilakukan MPR tersebut adalah amanah Undang Undang No 17/2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3) pada Bab II tentang MPR, di Pasal 5 huruf (a) MPR bertugas memasyarakatkan Ketetapan MPR RI dan huruf (b) MPR bertugas memasyarakatkan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

"Sosialisasi Empat Pilar MPR tersebut adalah amanah UU yang harus dilaksanakan. Elemen-elemen sosialisasi tersebut adalah nilai-nilai luhur bangsa dan konstitusi bangsa yang harus dipahami seluruh rakyat Indonesia terutama para generasi muda bangsa," ujarnya.

Berbicara soal Indonesia Harmoni, menurut HNW, seharusnya seluruh anak bangsa saat ini berkaca dari para founding father Indonesia dahulu, betapa mereka menyajikan satu keharmonian bangsa dalam bermacam keberagaman dan perbedaan. 

Peristiwa dari tanggal 1 Juni hingga tanggal 22 Juni 1945 sampai 17 Agustus dan 18 Agustus 1945 sesungguhnya menggambarkan bagaimana sebuah keharmonian itu sungguh menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa, sehingga menghasilkan sebuah karya besar Indonesia Merdeka. Andai saja para tokoh bangsa waktu itu tidak mengedepankan harmoni dan komitmen untuk mewujudkan Indonesia yang besar, tidak akan mungkin ada kata sepakat soal rumusan dasar negara.

"Pertanyaan besarnya adalah, kita saat ini terutama generasi muda apa yang sudah kita buat buat bangsa ini. Para tokoh-tokoh bangsa Indonesia dengan keberagamannya mampu melakukan keharmonian dan terwujudlah Indonesia seperti yang dicita-citakan. Lalu apa peran kita sekarang untuk mengisi bangsa ini, untuk mencapai cita-cita Indonesia bersama ke depan.  Inilah yang harus dipikirkan secara serius buat kita semua anak bangsa," tegas politisi senior PKS ini.

Saaat ini, sambung HNW, sedang panas-panasnya generasi muda bangsa disuguhkan berbagai sajian peristiwa-peristiwa politik yang sangat 'ajaib' bahkan ada yang sangat tidak pantas. Ia berharap agar generasi muda bangsa pandai-pandai melakukan filterisasi sendiri terhadap segala peristiwa-peristiwa negatif yang tidak pantas.

"Kembalilah kepada nilai-nilai luhur bangsa dan komitmen kepada Indonesia yang harmoni," tutupnya. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya