Berita

Maruarar Sirait

Wawancara

WAWANCARA

Maruarar Sirait: Kader PDIP Wajib Waspada, Ada Upaya Adu Domba Megawati-Jokowi

KAMIS, 26 MARET 2015 | 08:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) men­curigai hasil survei Poltracking Indonesia yang menye­butkan Presiden Jokowi paling diminati publik sebagai pemimpin PDIP di masa mendatang.

"Survei ini kita dengarkandan hormati. Tapi perlu was­pada terhadap upaya adu domba menjelang kongres agar PDI Perjuangan tak utuh," ujar Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait.

Seperti diketahui dalam survei Poltracking yang dirilis Minggu (22/3), Jokowi menjadi sosok yang paling diinginkan publik untuk menjadi Ketua Umum PDIP dengan prosentase 7,68 persen; Ganjar Pranowo 7,41 persen; Pramono Anung 7,35 persen; Maruarar Sirait 7,03 persen; Tjahjo Kumolo 6,6 persen; Hasto Kristianto 6,52 persen; Megawati Soekarnoputri 6,44 persen; Prananda Prabowo 5,93 persen; dan Puan Maharani 5,74 persen.


Maruarar Sirait selanjutnya mengatakan, dalam Kongres nanti akan memilih Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Umum PDIP periode 2015-2020.

Menjelang kongres, lanjut anggota DPR itu, perlu diwas­padai ada upaya adu domba agar Megawati dan Jokowi pecah.

"Tapi Mas Jokowi dan Mbak Mega baik-baik saja tuh," ka­tanya.

Berikut kutipan selengkap­nya:

Berarti tidak ada regenerasi dong di PDIP?
Penunjukan Megawati sebagai ketua umum bukan berarti tidak ada regenerasi di PDIP. Regenerasi sangat berjalan. Makanya muncul Jokowi, Risma, Ganjar, Rieke, Budiman Sujatmiko. Menurut saya itu regenerasi. Coba lihat dari tokoh partai lain, jarang seperti ini.

Selain itu, kongres merupakan forum tertinggi partai. Makanya, saya tak mengkhawatirkan su­ara-suara yang berkembang di luar kongres. Kita bicarakan sikap partai, struktur organisasi. Semua yang diputuskan final di kongres. Kader PDIP dari 34 provinsi yang berkembang pemegang suara.

Berarti hasil survei itu tak mengubah sikap kader untuk mendukung Mega?

Ya. Setiap partai politik memi­liki ideologinya sendiri dan cara sendiri. Tentunya kita menghar­gai masukan dan hasil survei dari semua pihak. Tapi untuk PDIP punya kekhasan sendiri. Kita punya ideologi, kita punya mekanisme.

Waktu Rakernas di Semarang, itu dihadiri oleh 500 kader dari 33 provinsi telah bersepakat untuk Ketum itu adalah Mbak Mega.

Dengan alasan yang menyatu­kan kita adalah Mbak Mega. Tentu ada ukuran ideologis dan sejarah bahwa Mbak Mega ini negarawan.

Apa alasannya?

Kewenangan Kongres 2010 di Bali, capres diberikan kepada Mbak Mega sebagai ketum ter­pilih. Tetapi dia menyerahkan kepada Mas Jokowi dan sesuai dengan harapan rakyat.

Dan akhirnya Jokowi terpi­lih jadi Presiden. Keyakinan kita PDI Perjuangan akan menjadi partai yang solid dan kompak.

Tadi Anda bilang perlu di­wasapai adu domba?
Pasti ada upaya mengadu domba. Makanya kader PDIPerjuangan harus menjaga kekompakan itu.

Hasil survei kita hormati. Tapi perlu waspada terhadap upaya adu domba. Karena PDIPmemenangkan dua pemi­lu sekaligus, yakni Pilres dan Pileg 2014 lalu.

Di Rakernas Mega sudah dipilih lagi, di Kongres pengukuhan saja?
Kongres adalah forum tert­inggi, sedangkan Rakernas di bawah kongres. Di Kongres kita akan bicarakan AD/ART, kebi­jakan politik partai, program, termasuk struktur.

Banyak kader potensial, tapi mentok selama Mega masih jadi ketua umum?
Saya jadi ketua DPPPDIPselama dua periode. Itu ada prosesnya. Jokowi juga jadi Presiden berproses dulu dari walikota, gubernur. Mega juga dulu berproses panjang. Harus ada prinsip, ideologi dan proses dijalani. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya