. Kebutuhan Indonesia akan energi semakin meningkat. Karena itu, Perusahaan Gas Negara (PGN) terus meningkatkan kinerja dengan menambah volume pengelolan gas, khususnya bagi rumah tangga, melalui program compressed natural gas (CNG).
Menurut Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso, untuk bisa bisa memanfaatkan gas bumi seoptimal mungkin maka PGN terus berupaya meningkatkan kinerja dengan menambah volume pengelolaan gas dan menambah kapasitas infrastruktur. PGN pun menargetkan 1 juta pelanggan untuk tahun-tahun mendatang.
"Saat ini PGN telah membangun pipa SNG di Semarang, Marunda, Cierbon, Bogor, Tangerang, Palembang dan Surabaya. Saat ini tercatat sudah ada 100 ribu pelanggan rumah tangga," ungkap Hendi beberapa saat lalu (Senin, 23/2).
Perbedaan pemakaian CNG dan liquefied petroleum gas (elpiji) yang banyak digunakan masyarakat saat ini terletak pada sarana penyaluran. Pada elpiji, gas disalurkan melalui tabung dan selang gas. CNG didistribusikan melalui pipa yang mampu mengakomodasi banyak rumah tangga. Satu CNG bisa mendistribusikan 1.000 rumah tangga.
"Saat ini PGN memasok gas hampir 800 juta kaki kubik per hari, sedangkan permintaan gas nasional mencapai lebih dari 2.000 kaki kubik per hari," ungkap Hendi.
Selain itu, lanjutnya, PGN sedang berupaya meningkatkan volume pasokan gas dengan meningkatkan potensi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTGU) Tambak Lorok, Jawa Tengah, dan membangun pipa gas Kalimantan-Jawa. Keseriusan PGN dalam meningkatkan kinerjanya tidak lepas dari adanya zero korupsi karena. Catatan positif bagi PGN dalam membentuk prosedur dan peraturan kerja karyawan dengan para pemangku kepentingan pun termuat dalam Kode Etik.
Sehingga korupsi sangat tidak mungkin terjadi di PGN . Hal ini sejalan dengan roadmap pemberantasan korupsi 2012-2023 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dimana sektor pangan, energi dan pajak menjadi prioritas nya,†tegas Hendi yang juga menyatakan calo gas tidak dapat memiliki kesempatan untuk bertemu dan berhubungan dengan karyawan maupun pimpinan Perusahaan Gas Negara.
Menurut Hendi, kunci dari ini semua selain sikap profesionalisme dari seluruh awak korporasi PGN juga kuatnya komitmen dari pucuk pimpinan atas toleransi nol korupsi. Korupsi tidak dibenarkan terjadi dan tidak dimungkinkan terjadi di PGN, yang menerapkan tata kelola perusahaan yang baik serta budaya perusahaan yang kuat.
"Karena itulah PGN mengembangkan budaya perusahaan berbasis prinsip-prinsip kolektif yang disebut sebagai ProCISE atau Professionalism, Continuous Improvement, Integrity, Safety dan Excellent Service," demikian Hendi.
[rus]