sabam sirait/rmol
sabam sirait/rmol
Minggu malam ini (22/3), Sabam pun diberi anugerah sebagai Bapak Demokrasi Bangsa. Hal ini mengingat perjuangan Sabam dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. Bahkan, dalam acara yang digelar di Meseum Nasional ini, dekalator Utama Partai Demokrat, Vence Rumangkang, memberi testimoni kepada Sabam sebagai tokoh senior yang patut diteladani oleh generasi politik saat ini. Kata Vence, kelas Sabam bukan lagi politisi melainkan sudah masuk kategori Bapak Bangsa.
Bukan tanpa alasan Sabam diberi anugerah Bapak Demokrasi Bangsa. Sejarah perjalanan Sabam dalam memperjuangkan demokrasi begitu panjang dan berliku. Di masa pemerintahan Soekarno, sebagai aktivis mahasiswa, Sabam sudah sering menyampaikan gagasan-gagasan, bahkan dalam forum-forum mahasiswa internasional.
Di era pemerintahan Soeharto, di tengah kondisi DPR yang boleh dikatakan hanya tahu kata "setuju", Sabam membuktikan diri bukan termasuk politisi yang diasumsikan saat itu. Misalnya, pada 1992, di tengah sidang yang dipimpin Ketua DPR Wahono, Sabam interupsi dan maju ke meja pimpinan untuk memperjuangkan agar Pemilu menjadi demokratis.
Kini, Sabam dinilai sebagai teladan baik bagi politisi dari ragam regenerasi. Ia meninggalkan jejak pengalaman yang panjang, dan memastikan bahwa politik harus bermula dari keyakinan ideologis. Sabam mengajarkan bahwa politik bukan semata menjadi alat untuk mencapai kursi kekuasan, melainkan juga menjadi medium perjuangan.
Maka Sabam juga adalah politisi yang tegar dan tahan banting. Ia sabar menerima konsekuensi sebab ia yakin sedang berada di jalan yang benar. Ancaman maupun godaan, sama saja tak membuat kaki Sabam berubah posisi. Sekali lagi sejarah mencatatnya, ketika Sabam berada dalam tekanan rezim Orde Baru, ia berdiri kokoh dengan menyuarakan apa yang ia yakini dengan lantang.
Sabam sendiri, terkait dengan penghargaan yang diberikan LensaIndonesia.Com ini, menilai dengan biasa-biasa saja. Sebab perjuangan yang selama ini ia jalani memang keharusan yang harus disampaikan demi Indonesia yang lebih baik.
Mantan Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) ini menilai, demokrasi secara substansial harus dipahami sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan demikian, rakyat pula lah yang menentukan jalannya pemerintahan.
Kini, pasca reformasi, Sabam melihat perilaku politik sebagian masyarakat belum benar-benar demokratis. Ia memahami hal ini sebab mentalitas Orba yang telah dibangun selama 30 tahun masih ada di benak anak-anak bangsa.
Untuk mengatasi hal ini, Sabam menyarankan agar dilakukan pendidikan demokrasi, bukan hanya oleh sekolah dan partai politik melainkan juga oleh pemerintah. Dan memang, memperjuangkan demokrasi bukanlah perkara mudah dan instan.
"Mengubah mental masyarakat menjadi benar-benar demokratis itu memerlukan waktu. Tapi kita harus terus berjuang. Harus tetap semangat," demikian Sabam, yang tidak hadir dalam acara pemberian anugerah tersebut karena sakit, yang dihubungi melalui sambungan telepon [ysa]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Minggu, 11 Januari 2026 | 07:59
Minggu, 11 Januari 2026 | 07:52
Minggu, 11 Januari 2026 | 07:12
Minggu, 11 Januari 2026 | 06:58
Minggu, 11 Januari 2026 | 06:30
Minggu, 11 Januari 2026 | 06:08
Minggu, 11 Januari 2026 | 05:45
Minggu, 11 Januari 2026 | 05:23
Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59
Minggu, 11 Januari 2026 | 04:40