Berita

Jimly Asshiddiqie

Wawancara

WAWANCARA

Jimly Asshiddiqie: Garap Penggiat Anti-Korupsi, Polri Perlu Seni Penegakan Hukum

SELASA, 10 MARET 2015 | 09:12 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Polri diminta menghargai seni penegakan hukum dan politik dalam menyikapi rentetan laporan yang menyeret sejumlah penggiat anti korupsi.

Selain pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) aktif dan nonaktif, bekas wakil Menteri Hukum Dan HAM Denny Indrayana dan bekas Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein yang dikenal cukup lantang mendu­kung KPK, kini masuk radar Bareskrim Mabes Polri.

Denny dilaporkan terkait proyek Payment Gateway pem­buatan pasport online, sementara Yunus dituduh membocorkan rahasia negara.


Bekas Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie risih juga melihat keadaan ini. Dia meminta Polri menghar­gai seni penegakan hukum dan politik dalam menyikapi rentetan laporan yang menyeret sejumlah penggiat anti korupsi

Kepada Rakyat Merdeka, Minggu (8/3), Jimly Asshiddiqie mengungkapkan pandangannya tentang perkembangan penega­kan hukum yang dilakukan Polri saat ini:

Apa penilian Anda dengan yang dilakukan Polri sekarang ini:

Seni penegakan hukum dan politik harus dilaksanakan secara arif.Jangan sampai setiap lapo­ran langsung diproses. Lihat-lihat dulu timing-nya.

Apa tidak pas diproses seka­rang?
Menurut saya begitu. Sebab, sebelumnya ada konflik KPK-Polri, kemudian pendukung KPK diproses setelah Polri mendapat laporan. Seharusnya kasus penggiat anti korupsi itu tidak diselidiki sekarang. Ini bisa menimbulkan kesan upaya kriminalisasi. Makanya KPK perlu menangkis masalah ini. Selain itu, gunakan hak huku­mnya yang kalah dalam guga­tan praperadilan Komjen Budi Gunawan (BG).

Misalnya melakukan apa?
Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA). Jika upaya hukum ini berhasil, kasus dugaan gratifikasi perwira tinggi Polri itu terbuka kemungkinan untuk diambil alih KPK.

Ada yang menilai MA nggak bakal menerima PK?
Diajukan saja dulu. Masalah ditolak itu urusan lain. Wong namanya saja mengajukan per­mohonan. Yang penting usaha dulu. Semua upaya hukum itu disediakan. Bukan soal menang dan kalah. Tapi hak untuk melaku­kan upaya hukum itu dipakai. Masyarakat menuntut supaya KPK mengajukan permohonan, lha kenapa nggak dilakukan.

Argumen apa yang bisa di­pakai KPK untuk memenangi PK?
Kalau soal argumen apa, nanti akan dibangun. Kan ada pengacaranya, itu ahli hukum semua. Tapi ajukan saja dulu.

Jangan orientasi hasil. Selama masih ada kesempatan, jangan nyerah dulu.

Jika PK diterima, apa KPK dibenarkan menarik kasus Komjen BG dari Polri?

Bukan ditarik, tapi dibicara­kan. Yang diserahkan kan do­kumennya. Saya tidak tahu sudah final apa belum itu penyerahannya.

Kalau belum?
Kalau belum final, kan bisa diminta lagi.

Tapi kalau sudah final, ya nggak bisa lagi. Apalagi kalau sudah resmi dengan surat, itu kan agak susah.

Bukankah KPK boleh saja ambil alih kasus di Kejakgung dan Polri melalui supervisi?
Boleh. Tapi ini kan KPK yang menyerahkan ke Kejakgung, lalu dilimpahkan lagi ke Polri. Kalau menurut saya ada dua kemungkinan.

Apa saja itu?
Apakah itu melimpahkan ke­wenangan atau sifatnya bukan pelimpahan kewenangan.

Konkretnya seperti apa?
Kalau sifatnya hanya mem­beri mandat, dalam rangka komunikasi, KPK memberikan tugas kepada Kejaksaan un­tuk melakukan penyelidikan maka itu berarti bisa ditarik kembali.

Tapi kalau sebaliknya?

Kalau itu dikatakan pelimpa­han kewenangan, pendelegasian wewenang, sekali diberikan tidak bisa ditarik lagi. Nah yang perlu ditanyakan ke KPK ini pelimpahan kewenangan atau pelimpahan berkas saja, yang bisa dimaknai sebagai pemberi­an tugas KPK kepada Kejaksaan sebagai koordinasi. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Jasa Kiai Kampung

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:26

Waketum MUI Usul Gaji Guru Pesantren di Atas UMR

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:16

Jangan Takut Kritik Pemerintah

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:04

Saham BYAN Mencuat, IAW Ingatkan soal Pengawasan Regulator

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:20

Melawan Amplop di Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:08

Program Streamlining Danantara Tak Boleh Identik dengan PHK

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:38

Investor Diajak Terlibat 37 Proyek Investasi Strategis di Jakarta

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:17

Budi Arie Tolak Cabut Analisis Pemilu sebelum 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:02

Jangan Berhenti pada Janji 15 Desember

Minggu, 30 Agustus 2026 | 01:35

Pajak Diduga Bocor Rp5 Triliun, Purbaya Kantongi 40 Nama Perusahaan Baja

Minggu, 30 Agustus 2026 | 01:21

Selengkapnya