Berita

tony abbott/net

Indonesia Tak Perlu Khawatir dengan Ancaman Tony Abbott yang Sedang Cari Muka

JUMAT, 20 FEBRUARI 2015 | 05:18 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Ancaman Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, melarang warganya berlibur ke Indonesia karena rencana pelaksaaan eksekusi terpidana hukuman mati merupakan hak mereka . Namun tentu saja itu tidak bermakna apa-apa bagi Indonesia.

Demikian disampaikan pakar hukum internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung yang juga Ketua Departemen Hukum Internasional Fakultas Hukum Unpad, Atip Latipulhayat, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis malam (19/2).

Atip teringat sekitar tahun 2005-an, ketika ia mengambil doktoral di Australia. Saat itu ada warga negara Australia yang akan dieksekusi mati oleh Singapura karena kasus narkoba.  Pemerintah Australia melakukan berbagai macam usaha untuk mencegahnya, termasuk memboikot Singapura Air Lines.


"Dan ternyata tidak digubris oleh Singapura, negara yang kecil. Dan tidak ada efek bagi Singapura itu ancaman. Saya menyaksikan sendiri ketika itu, warga Australia sendiri tidak mempermasalahkannya, karena memahami kedaulatan hukum sebuah negara. Jadi usaha-usaha yang dilakukan pemerintah Australia tidak lebih ingin unjuk gigi membela warganya. Ia ingin cari muka. Karena itu adalah hal biasa," jelas Atip, yang merupakan alumni Monash University Australia itu.

Terkait dengan argumentasi resiprokal, untuk menukar terpidana mati, menurut Atip, tidaklah tepat. Karena resiprokal tidak terkait dengan kedaulatan, tetapi terkait dengan treatment atau perlakuan.

"Disini tidak ada persoalan diplomatik. Tetapi terkait dengan sistem hukum yang harus dihormati. Sebagaimana juga ketika ada warga Indonesia yang dihukum mati di negara lain, maka pemerintah Indonesia berhak mengupayakan diberikan ampunan terhadapnya. Karena itu upaya-upaya dari negara adalah hal biasa dengan tetap harus menghormati kedaulatan hukum sebuah negara," terang Atip dengan tegas.

Atip selanjutnya mengatakan pemerintah Indonesia harus kukuh dan tidak keder terhadap ancaman Australia. Media di Indonesia pun harus mendukung penuh kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia, sebagaimana media di Australia mendukung dan mengompori  pemerintah Australia agar mengancam kedaulatan hukum Indonesia. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya