Berita

Siti Nurbaya

Wawancara

WAWANCARA

Siti Nurbaya: Kebakaran Hutan di Riau Terparah, Swasta Harus Ikut Tanggung Jawab

SELASA, 17 FEBRUARI 2015 | 10:29 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sejak November lalu, Presiden Jokowi sudah perintah­kan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya agar mencari akar masalah dan solusi terhadap kebakaran hutan di Riau.

Untuk itu, menteri dari Partai Nasdem tersebut mengaku beru­paya keras mewujudkannya. Apalagi beredar kabar, kalau tidak berhasil menuntaskan masalah itu, Siti Nurbaya akan di-reshuffle dari kabinet.

"Kebakaran hutan di Riau masih paling terparah karena banyak lahan gambut yang sen­sitif. Untuk itu, kita mengaitkan pihak swasta untuk ikut bertang­gung jawab. Seperti menyekat kanal liar supaya gambut men­jadi basah," ujarnya.


Selain menyekat kanal, lanjut Siti Nurbaya, semua pihak terkait melakukan patroli. Sebab, tanpa adanya pengawasan segalanya akan sia-sia.

"Harus lakukan patroli di wilayahnya. Terutama Pemda, polisi dan pemilik," ujarnya.

Inilah wawancara Rakyat Merdeka dengan Siti Nurbaya di kantornya, Jakarta, Minggu (15/2):

Apa perintah Presiden sudah dilaksanakan?
Kita mengikuti perkemban­gan kebakaran hutan dan lahan, saya kira memang sesuai dengan pesan Pak Presiden, kita harus mewaspadai beberapa provinsi. Ada Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar dan Kalteng.

Bagaiman solusinya?
Prinsipnya bahwa setiap ada titik api, harus kita tangani dan matikan. Di veberapa hot spot memang terjadi (kebakaran-red), kita berupaya terus untuk kendalikan.

Data terakhir yang kami teri­ma, dari 105 hektar yang terba­kar di Pulau Rupat, 32 hektar su­dah dipadamkan. Ada beberapa kendala di lapangan, antara lain kami masih menemukan alat berat (untuk penebangan hutan) dari beberapa oknum.

Dua orang sudah ditang­kap dan menjadi tersangka. Kemudian eksavator-nya (alat berat) diserahkan ke kantor polda.

Apakah Kemenhut berkoor­dinasi dengan Polda?
Kami meminta kepada Polda untuk terus mengejar siapa di balik oknum-oknum tersebut. Kalau kita perhatikan, tidak mudah memang menangani masalah itu di lapangan. Saya kira tepat sekali apa yang dikata­kan Presiden bahwa semua pihak harus terlibat, mulai dari pemer­intah pusat, Pemda, TNI, Polri, dan termasuk dunia usaha.

Kenapa swasta juga dili­batkan?
Setelah saya ke lapangan beberapa bulan terakhir ini, terungkap bahwa lahan kita ada yang dikelola swasta. Ada juga yang dikelola masyarakat dan ada pula yang dikelola negara, seperti Taman Nasional. Untuk itu, dalam menangani kebakaran hutan, kita juga melibatkan swasta untuk bersama-sama menyelesai­kannya.

Apa yang Anda instruksi­kan kepada swasta?
Segera membuat sekat dan menutup kanal-kanal lebar yang mencapai 16 meter. Kemudian kami meminta kepada swasta agar bersama masyarakat mengon­trol secara terus-menerus. Kami meminta kepada swasta untuk melakukan patroli, bisa bersama-sama dengan Brigade Manggala Akni. Bisa juga dilakukan sendiri.Pada dasarnya, training dan dan interaksi sudah dilakukan.

Bagaimana kerja sama dengankementerian lain?
Saya sudah meminta kepada Menteri Pertanian Pak Amran Sulaiman untuk mewaspadai perkebunan-perkebunan yang di luar kawasan hutan, karena seka­rang sudah menjadi Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Maka itu menjadi tanggung jawab saya untuk melihat yang di luar ka­wasan hutan. Tapi karena beberap aturan kita masih mengaitkan Menteri Pertanian, saya sudah meminta Pak Amran dan Dirjen Perkebunan untuk bekerja keras bersama kami.

Bagaimana dengan perizinan?
Aturan perizinan juga harus direvisi agar dalam melakukan tindakan tak lagi terkendala pera­turan sendiri. Ada pelanggaran yang terkadang tak bisa langsung dicabut izinnya. Untuk itu, aturan perizinan harus diubah. Namun semua memerlukan proses. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya