Berita

Jokowi Konyol dan Bunuh Diri Bila Berpisah dengan Megawati dan PDIP

RABU, 11 FEBRUARI 2015 | 20:38 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Dorongan kepada Presiden Joko Widodo untuk memisahkan diri dari Megawati dan PDI Perjuangan semakin kuat. Dorongan ini berasal dari figur atau faksi kelompok relawan pendukung Jokowi yang memang anti-partai.

Di tengah kecenderungan ini, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Haryadi, mengingatkan Jokowi agar tak goyah. Lebih-lebih khayalan kelompok tersebut kalau pun nanti partai diperlukan, maka akan dibentuk partai baru yang anasir utamanya adalah kelompok itu.

Menurut Haryadi, jika Jokowi goyah, mungkin saja Megawati dan PDI-Perjuangan akan sedikit merugi, tapi tetap akan eksis sebagai kekuatan politik besar. Karena pondasi Megawati dan PDI Perjuangan sudah sangat kokoh.

"Sementara bagi Presiden Jokowi niscaya akan merupakan bunuh diri politik dan konyol," kata Haryadi dalam keterangan beberapa saat lalu (Rabu, 11/2).

Haryadi mengingatkan, anti-partai berarti menentang semangat konstitusi yang mengharuskan pengembangan demokrasi Indonesia berpilar partai. Sehingga Presiden Jokowi akan kehilangan basis kekuatan di parlemen.

Menurut Hayradi lagi, mungkin saja ada partai lain yang siap mendukung Jokowi di Parlemen, tapi kepentingannya semu dan sesaat. Dengan demikian, pasti kinerja kekuasaan pemerintahan tidak akan efektif.

"Pada saat yang sama, memisahkan diri dari Megawati, maka Presiden Jokowi akan kehilangan patron ideologi nasionalisme-kewargaan. Juga, Presiden Jokowi akan mudah dicap sebagai penghianat politik," jelasnya.

Jadi menurut Haryadi, ‎yang diperlukan Presiden Jokowi sekarang justru adalah menguatkan kembali jalinan komunikasi dan ikatan politiknya pada Megawati dan PDI-Perjuangan. Kecuali jika memang Presiden Jokowi ingin bunuh diri secara politik.[ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya