Berita

ilustrasi/net

Pemerintahan Jokowi-JK Harus Hentikan Black Market Impor Pangan

KAMIS, 05 FEBRUARI 2015 | 06:41 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Ada beberapa pilar kemandirian pangan. Misalnya faktor ketersediaan yang terkait dengan produk; masalah distribusi antar satu daerah dengan daerah lain; serta keterjangkauan daya beli masyarakat.
 
Dari ketiga pilar itu, kata pakar pertanian Universitas Hasanudin Makassar, Muslim Salam, pemerintahan Presiden Jokowi terlihat memiliki tekad kemandirian pangan. Pemerintah misalnya yang tidak saja concern dengan perbaikan infrastruktur pertanian seperti irigasi, tetapi juga mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk mewujudkan kemandirian pangan itu.
 
"Dalam pandangan saya, sejak jatuhnya Orde Baru itu perbaikan irigasi tidak kontinyu dilakukan oleh pemerintah. Selain itu, lahan pertanian juga menyempit akibat konversi, dan tidak ada varietas-varietas baru yang dikembangkan untuk diproduksi secara massal," kata Muslim dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 5/2).
 

 
Sementara pemerintahan Presiden Jokowi, lanjut Muslim, secara gencar menunjukkan keberpihakan kepada sektor pertanian, dengan melakukan upaya mewujudkan kemandirian pangan.

Namun diakui oleh doktor pertanian dari sebuah universitas di Jepang itu, jika dikaitkan dengan kesiapan menghadapi era Pasar Bebas ASEAN terkait dengan pelaksanaan MEA 2015, apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini belum cukup. Sebab, di ASEAN ini Indonesia memiliki dua pesaing kuat di sektor pertanian, yaitu Thailand dan Vietnam.
 
Menurut Muslim, dalam dua atau tiga tahun mendatang mungkin produk beras Indonesia bisa swasembada. Namun di sisi lain, produk beras masih akan kalah bersaing baik dari sisi kualitas maupun harga dengan dua negara tetangga itu.

Muslim pun mendorong pemerintah untuk meningkatkan daya saing produk pangan melalui subsidi, dengan jalan membeli hasil panen petani dengan harga lebih mahal, sehingga petani terdorong mau bertanam padi dengan kualitas yang baik.

Muslim mengingatkan, menahan laju impor beras tidak mungkin dilakukan dengan regulasi. Hal itu pun tidak akan efektif karena akan melanggar prisip perdagagan bebas. Proteksi melalui tariff barrier juga tidak akan bisa dilaksanakan karena Indonesia tentu akan diimpor oleh negara lain.

"Yang bisa dilakukan adalah benahi, jangan ada black market-black market, karena kalau impor legal produk kita masih bisa bersaing dari sisi harga," demikian Muslim. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya