Berita

ilustrasi/net

Pendukung Jokowi Belum Layak Jadi Partai

RABU, 04 FEBRUARI 2015 | 11:14 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Keinginan sebagian besar relawan Pro Jokowi ataui Projo membentuk partai politik baru, membuat jagat politik yang sudah "panas" menjadi semakin "gerah".

Aktivis Projo menilai partai baru harus lahir untuk mencegah terjadinya pemaksaan kehendak elit-elit parpol pengusung terhadap Presiden Jokowi. Sementara itu, PDIP sebagai partai pengusung Jokowi di Pilpres 2014 kemarin menganggap Jokowi tetaplah kader dan petugas partai sehingga tidak alasan untuk membentuk partai baru.

Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi yang intens mengamati PDIP karena pernah lama berada di ring satu Megawati Soekarnoputeri ini menganggap ide pendirian partai Projo tidak terlepas dari kekecewaan para relawan Joko Widodo dalam melihat perkembangan politik akhir-akhir ini.


"Bisa jadi relawan Projo merasa gerah karena Jokowi terus diusik dan direcoki terutama intervensi PDIP dalam pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri dan intervensi Nasdem dalam pengangkatan Jaksa Agung dan kasus impor minyak Senonggol dari Nasdem," kata Ari Junaedi kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Rabu, 4/2).

Namun demikian, Ari mengingatkan, mendirikan partai politik baru bukan urusan yang mudah. Pendirian parpol baru karena kultus individu yang berlebihan serta tidak ditopang dengan ideologi partai yang kokoh sama saja dengan mendirikan kelompok fans club yang seumur jagung.

"Begitu tokoh ini tidak terpilih, maka mati pulalah umur partai baru tersebut," timpal Ari Junaedi.

Menurut pengajar Humas Politik di Program Sarjana Universitas Indonesia (UI) ini, relawan Projo hendaknya berpikir dua kali sebelum mendirikan partai baru mengingat ekpektasi publik yang berlebihan saat memilih Jokowi dulu kini mulai memudar seiring lambannya langkah politik Jokowi dalam mengambil keputusan strategis.

"Harus diingat, setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Sulit bagi Jokowi terpilih kembali di 2019 jika menjalankan roda pemerintahan seperti sekarang ini. Kultus individu dalam politik dewasa ini sudah menjadi hal yang usang," beber Ari Junaedi yang juga dosen di Pascasarjana UI dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya