Berita

Politik

Waspada, PSI Bikin Panas Kisruh KPK-Polri

RABU, 28 JANUARI 2015 | 19:05 WIB | LAPORAN:

Kisruh antara Polri dan KPK ditenggarai oleh kelompok PSSI.

Namun PSSI yang dimaksudnya bukanlah Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia, tapi Partai Sok Sosialis Indonesia yang merupakan plesetan dari Partai Sosialis Indonesia.

"Ribut-ribut antara KPK Vs Polisi ini kan karena ulah anggota kelompok Partai Sok Sosialis Indonesia. Kalau disebut partai sosialis masih lebih baik, tapi ini mereka hanya sok sosialis. Mereka-mereka inilah yang memanfaatkan KPK dan menjadikannya sebagai rumah mereka. Mereka menjadikan KPK sebagai rumah oposisi baru," ujar Effendy Simbolon kepada wartawan di gedung DPR, Jakarta, Rabu (28/1).


PSI sendiri dalam jaman kemerdekaan merupakan fusi dua partai yaitu Partai Sosialis yang menganut paham Marxis beraliran Sosialisme, yang diketuai oleh Amir Sjarifuddin dan Partai Rakyat Sosialis (PARAS) yang didirikan oleh Sutan Sjahrir.

Namun pada perkembangannya partai-partai ini tidak terlalu kuat. Kekuatan PSI saat ini justru pada kader-kadernya yang menjadi tokoh dan selalu berada dalam kekuasaan siapapun yang memerintah.PDI Perjuangan pun, menurutnya, ikut terseret akibat ulah mereka.

"Kelompok sempalan ini meski tidak terlihat tapi selalu terasa menjadi oposisi kalau keinginannya tidak dikabulkan," tambah politisi PDI Perjuangan yang terkenal vokal ini lagi.

Effendy menambahkan, kelompok itu selalu bisa mendapatkan akses termasuk ke dalam internal KPK. Dia pun mengkritik KPK yang hanya mau membuka informasi kepada kelompok ini saja.  

"Kalau mau fair, buka juga dong akses bagi kelompok lain. KPK tidak boleh diklaim hanya milik kelompok tertentu," ujarnya.

Dia mengakui, baik Polri maupun KPK memilik sejumlah kelemahan. Sehingga, wajar bila ada koreksi terhadap kedua lembaga tersebut. Namun angan diputarbalikkan seolah-olah yang dilakukan PDIP adalah untuk melindungi seseorang.

Effendi menegaskan kalau partainya juga  berhak mengkritik oknum KPK bila memang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan jabatannya.

Sebaliknya, kata dia, jangan ada komisioner maupun polisi yang berlindung kepada lembaga jika memang melakukan kesalahan. Dalam kesempatan itu, Efendi kembali mengingatkan agar Jokowi tetap waspada dan tidak salah langkah.

"Sebab, saat ini Jokowi adalah presiden yang memimpin seluruh rakyat Indonesia. Jadi, jangan main-main karena Indonesia adalah republik. Saya justru mengingatkan, sebelum Jokowi dihajar oleh lawan politiknya," tandas dia.

Sebagai pendukungnya, wajar bagi Efendi untuk mengingatkan. Sebab, lawan politik memiliki peluang yang sangat besar untuk menjatuhkan Jokowi.

"Dan Jokowi jangan terlena seolah-olah bisa berkuasa selama lima tahun penuh. Siapa bisa menjamin? Ingat, apa yang terjadi pada Gus Dur (presiden RI ke 4, KH Abdurrahman Wahid)," ucapnya.

Padahal, Gus Dur menurutnya jauh baik daripada Jokowi, namun akhirnya jatuh. Meski demikian dia mengaku tidak ingin Jokowi dijatuhkan, apalagi sendirian.

"Ini politik dan jangan sampai terlena.  Apalagi sampai 'dimakan' oleh lawan politik akibat celah yang dibuatnya sendiri. Mana mungkin ada kelompok tertentu yang rela menunggu sampai lima tahun," ungkapnya.[wid]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya