Berita

Erry Riyana Hardjapamekas

Wawancara

WAWANCARA

Erry Riyana Hardjapamekas: Kasus Cicak Vs Buaya Tak Akan Terulang Kalau Presiden Bertindak Cepat...

RABU, 28 JANUARI 2015 | 10:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bekas Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas menilai, di tengah banyaknya gempuran terhadap pimpinan KPK, justru akan membuat lembaga anti korupsi itu semakin kuat.

"Saya sangat tidak paham apa yang menjadi dasar pemikiran mereka. Tapi dengan seperti ini, KPK akan jadi semakin kuat," tegas Erry Riyana Hardjapamekas.

Seperti diketahui, semua pimpinan KPK dilaporkan ke Mabes Polri. Setelah Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu Praja, Ketua KPK Abraham Samad juga dilaporkan ke Bareskrim Polri. Samad dilaporkan terkait dugaan pertemuannya dengan sejumlah petinggi par­tai politik pada Pilpres 2014. Termasuk tawaran bantuan pen­anganan kasus politikus PDIP Emir Moeis yang tersandung perkara korupsi.


Zulkarnaen juga akan dilaporkan ke Mabes Polri terkait dugaan korupsi dana hibah Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Jawa Timur Tahun 2008.

Erry Riyana Hardjapamekas yang menjadi anggota Tim Independen Negarawan untuk menyelesaikan konflik KPK Versus Polri, menyesalkan ada pihak-pihak menguji ketahanan KPK dengan cara yang dini­lainya tidak beradab.

Berikut kutipan lengkapnya;

Bagaimana tanggapan Anda soal kemelut Polri dan KPK ini?
Saya kira ini harus segera diselesaikan. Saya pikir Presiden turun tangan secara cepat agar tidak berlarut-larut. Mudah-mudahan dengan komunikasi yang baik masalahnya bisa di selesaikan segera.

Bagaimana Anda melihat fenomena seperti ini?
Saya pikir ini dinamika saja, pada akhirnya akan kembali ke kesamaan bahasa bahwa dalam pemberantasan korupsi memang memerlukan koordinasi dan komunikasi yang baik.

Banyak masyarakat yang simpati kepada KPK, tang­gapan Anda?
Ya karena partisipasi publik dalam pemberantasan koru­psi selama ini terbina dengan baik, dan KPK menunjukkan keterbukaan, sehingga publik merasa KPK menjadi bagian dari pemeberantasan korupsi. Trust masyarakat yang terban­gun selama ini seperti berpihak pada KPK.

Komentar Anda menge­nai penangkapan Bambang Widjojanto?
Saya kira itu tindakan kurang beradab. Oknum Polri yang melakukannya saya pikir harus diperiksa ya. Kan ada tata cara- nya, ada protokolnya. Gimana caranya menangkap dan ke­napa harus ditangkap seperti itu. Dipanggil baik-baik juga BW tidak akan mengingkari panggilan.

Kami tidak protes dia diper­salahkan atas kasus lama. Tapi jangan dibeginiin, jangan dipabrikasi dan direkayasa. Kepolisian sendiri menjadi in­stitusi, milik kita semua.

Seharusnya mereka berpikir apa sih dampaknya, analisa risiko, assesment seperti itu untuk institusi sebesar Polri. Saya punya banyak kawan polisi yang tidak sependapat dengan mereka.

Apa yang Anda rasakan saat mengetahui kejadian itu?
Prihatin, tentu saya sangat pri­hatin. Karena hal seperti ini tidak boleh terjadi. Kalau misalnya tidak ada orang yang memang ingin melaksanakan visinya dengan berbagai cara. Dan ini harus lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Apa saran Anda kepada Presiden?
Saran saya supaya Presiden segera melakukan tindakan te­gas, merembukkan masalah ini dan menyamakan pemahaman sehingga selesai dengan baik.

Menurut Anda, apakah kasus cicak vs buaya akan terulang?
Nggak lah kalau Presiden bertindak cepat. ***

Populer

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

UPDATE

Forum IPEM 2026 Momentum Penting Perkuat Diplomasi Energi

Kamis, 19 Maret 2026 | 00:08

Polres Metro Tangerang Kota Ungkap 14 Kasus Curas Sepanjang Ramadan

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:45

Negara Bisa Menjadi Totaliter Lewat Teror dan Teknologi

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:28

Pengungkapan Pelaku Teror Air Keras Bukti Ketegasan Prabowo

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:10

YLBHI: Ada Pola Teror Berulang terhadap Aktivis hingga Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:51

Observatorium Bosscha: Hilal 1 Syawal Tipis di Ufuk Barat

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:32

TNI-Polri Harus Kompak Bongkar Teror Air Keras Aktivis KontraS

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:10

Umat Hindu Semarang Gelar Tawur Agung Kesanga Sambut Nyepi Saka 1948

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:56

YLBHI Minta Kasus Air Keras Andrie KontraS Disidang di Peradilan Umum

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:40

Kinerja Cepat Polri Ungkap Kasus Penyiraman Air Keras Tuai Apresiasi

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:11

Selengkapnya