Berita

Politik

2 Blunder Jokowi Ini Bikin Kacau Ketatanegaraan RI

MINGGU, 18 JANUARI 2015 | 11:27 WIB | LAPORAN:

Belum genap 100 hari menjabat sebagai presiden RI, kebijakan ditempuh Joko Widodo dinilai sudah banyak blunder, bahkan mengenyampingkan konstitusi dan peraturan perundang-undangan.

"Pertama, dapat kita lihat dari kebijakannya menaikkan harga BBM di tengah harga bakar dunia menurun," papar pemerhati politik dari The Indonesian Reform, Martimus Amin kepada Kantor Berita Politik RMOL, beberapa saat lalu (Minggu, 18/1).

Kemudian, Jokowi menurunkan harga BBM dari premium semula Rp 7.600 dari Rp 8.500 per liter, dan Solar dari Rp 7.400 menjadi Rp 7.250 per liter. Kini harga BBM kembali diturunkan. Harga Premium menjadi Rp 6.600 per liter dan Solar menjadi Rp 6.400 per liter yang mulai berlaku hari Senin besok.


Ia menilai kebijakan Jokowi menaikkan dan menurunkan harga BBM yang ditempuh secara gegabah telah menyebabkan harga bahan pokok, tarif angkutan umum, serta harga produk industri yang membumbung naik tidak mau turun kembali. Meski harga BBM sudah diturunkan sebanyak dua kali.

"Kedua, catatan kami di sini soal pemberhentian Kapolri Jenderal Sutarman yang masih lama berakhir masa jabatannya dan pengusulan Komjen Pol. Budi Gunawan sebagai penggantinya," terangnya lebih lanjut.

Pergantian Kapolri ini telah menimbulkan kontroversi berkepanjangan atas ditetapkan status tersangka calon Tribharta 1 usulan Jokowi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Momen penetapan status tersangka Komjen BG bersamaan proses fit and proper test Komisi II DPR dalam menindaklanjuti surat presiden. Setelah DPR RI menyetujui malah Jokowi menunda pelantikan Budi Gunawan dan mengangkat Plt. Kapolri yakni Komjen Badrudin Haiti.

Blunder yang dilakukan Jokowi lebih jauh lagi, menurut Martimus, terkait pemberhentian Kapolri Sutarman dan pengangkatan Plt. Kapolri itu ternyata juga tidak pernah meminta persetujuan DPR sesuai diatur UU 2/2002 Tentang Kepolisian.

"Kalau Presiden Jokowi terus menempuh kebijakan seperti ini, maka kita tak dapat membayangkan kekacauan apa lagi yang akan terjadi pada sistem ketatanegaraan kita," demikian mantan caleg DPRD Gerindra ini.[wid]


Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Revolusi Status Buruh Harian Lepas

Senin, 22 Juni 2026 | 00:03

Nyanyian Sony Sebut 41 Nama Dituding Hanya untuk Kelabui Penyidik

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:33

Penangkapan Roy dan Tifa Perkuat Anggapan Polisi di Bawah Kendali Jokowi

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:17

Prabowo Panggil Rosan, Bahas Optimalisasi Aset Negara dan Transformasi BUMN

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:55

Program Sekolah Rakyat Dapat Akses Gratis Talent DNA ESQ

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:32

Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Nginap di Rutan Polda, Besok ke Kejaksaan

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:01

Teruji di MRS 2026, Pertamax Turbo Jadi Andalan Utama Pembalap Nasional

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Penyelenggaraan Haji Tahun Ini Lebih Baik dari Sebelumnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Buntut Gesekan Petugas vs Ojol, Ini Strategi Baru Dishub DKI Atur Ruang Jalan Ibu Kota

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:31

Mensos ke Pejabat Baru: Jangan Sabotase Program Sekolah Rakyat!

Minggu, 21 Juni 2026 | 20:45

Selengkapnya