Berita

Fary Djemy Francis

Wawancara

WAWANCARA

Fary Djemy Francis: Perlu Tidaknya Panja Insiden AirAsia Tergantung Pertemuan Dengan Menhub

SELASA, 13 JANUARI 2015 | 10:06 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Komisi V DPRtelah menetapkan jadwal pemanggilan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan sejumlah pihak terkait tragedi jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501.

Selain meminta penjelasan kepada berbagai pihak mengenai insiden itu, komisi perhubungan DPR akan ikut menginvestigasi insiden tersebut.

Ketua Komisi V DPR, Fary Djemy Francis mengungkapkan, jadwal pemanggilan terhadap Kemenhub dan sejumlah pihak terkait jatuhnya pesawat AirA­sia sudah diputuskan pimpinan Komisi V DPR. Menurutnya, sidang pertama bersama Kemen­hub dan sejumlah pihak terkait digelar Selasa (13/1, hari ini).


Selain Menteri Perhubungan, lanjutnya, pihaknya juga me­manggil berbagai komponen terkait, seperti BMKG, pemandu lalu lintas udara atau Air Traffic Controller (ATC), pihak bandara atau Angkasa Pura dan PT Indo­nesia Air Asia.

”Kami juga akan mengagenda­kan rapat kerja bersama Basar­nas,” ujar Fary Djemy Francis kepada Rakyat Merdeka, di Ge­dung DPR, Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan lengkapnya:

Apa masih merasa perlu membentuk panja insiden AirAsia itu?

Pertemuan dengan sejumlah pihak terkait itu menjadi landasan bagi kami untuk memutuskan perlu atau tidaknya pembentukan panitia kerja (panja) insiden jatuh­nya AirAsia QZ 8501.

Artinya, kita lihat hasil per­temuan besok (Selasa ini) den­gan menteri perhubungan (Men­hub). Sekarang ini kami belum memutuskan.

Apa informasi yang akan digali dalam rapat kerja ber­sama menteri perhubungan dan para pihak terkait itu?
Ada beberapa poin penting yang ingin kami klarifikasi, di antaranya izin terbang, prediksi cuaca yang tidak dimanfaatkan, isu seputar ATC, dan asuransi para korban.

Pemerintah telah melakukan penelusuran seputar masalah izin terbang, apa lagi yang ingin didalami?
Ini masalah paling krusial. Pesawat bisa terbang, tapi ke­menterian bilang izinnya tidak ada. Kenapa bisa kecolongan. Bagaimana pengawasan di ban­dara. Itu mau kami telusuri.

Bukankah Kemenhub sudah memberikan sanksi?
Soal sanksi yang mereka ber­ikan, kita memberi apresiasi. Tapi, Kemenhub kan tetap harus melakukan check and recheck. Jangan hanya mengandalkan operatornya. Mereka harus bisa menjelaskan, kenapa pesawat bisa terbang tapi tidak ada izinnya.

Selain menelusuri dan mengambil tindakan soal izin terbang, Kemenhub juga mengeluarkan aturan tiket baru, ini bagaimana?
Menurut saya kebijakan itu kurang strategis. Sebaiknya, men­teri perhubungan fokus untuk menerapkan prosedur keselamatan tanpa kompromi, dan melakukan pengawasan terus menerus. Buat apa mengeluarkan aturan baru yang berimbas pada maskapai berbiaya murah.

Saya melihat, tidak ada korela­si tiket murah dengan keselama­tan penumpang pesawat. Kesela­matan penerbangan merupakan bagian tersendiri yang langsung dimonitor Kemenhub. Ini lebih kepada manajemen maskapai dan kontrol pemerintah.

Apa yang harus dilakukan pemerintah?
Ya, fokus pada inti perso­alan. Pemerintah tidak boleh melakukan kompromi terhadap keselamatan transportasi. Pe­merintah harus disiplin dalam melakukan pengawasan. Jangan hanya melakukan pengawasan atau mengambil tindakan saat ada kejadian.

Mengenai evakuasi para korban, bagaimana penilaian DPR?
Kami mengapresiasi kinerja Basarnas dan sejumlah pihak yang ikut membantu proses pencarian dan evakuasi para korban. Mereka bisa menemu­kan dan mengangkat bagian pesawat, serta black box dalam waktu relatif singkat. Ini adalah prestasi. Ke depan, kita fokus untuk mengungkap penyebab teknis terjadinya kecelakaan dan melakukan berbagai upaya agar persitiwa serupa tidak terulang.

Artinya, DPR masih tetap memerlukan pembentukan panja?

Kita lihat nanti. Kami akan memutuskan hal itu setelah melakukan rapat dengan sejum­lah pihak terkait. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya