Korea Selatan suguhkan bentuk hiburan lainnya di luar musik, film, dan drama yang saat ini tengah populer terutama di kalangan anak muda. Hiburan itu adalah kolaborasi seni bela diri taekwondo, akrobatik, dan komedi yang dikemas dalam satu panggung pertunjukkan yang mengusung penampilan non verbal bertajuk "Jump".
Pertunjukkan yang ditampilkan di Balai Kartini Jakarta pada Minggu (21/12) itu dibagi dalam dua sesi, yakni pukul 15.00 dan 18.00. Setiap sesinya, bangku penonton dipadati oleh ratusan penonton yang antusias datang.
Jump dibuka dengan hadirnya seorang aktor berpenampilan kakek tua yang terlihat kepayahan untuk menaiki tangga dan berjalan di atas penggung. Ia pun kemudian seolah mengecek kesiapan pencahayaan dan efek suara sebelum akhirnya membuka pertunjukkan. Tingkah polah kakek tua itu pun berhasil menggugah perhatian para penonton.
Panggung kemudian diisi dengan para pemain utama Jump. Ada enam orang pemain utama yang memiliki perannya masing-masing yang merupakan keluarga tradisional di Korea. Keenam pemain utama itu terdiri dari seorang kakek, paman, ibu, anak perempuan, anak laki-laki, dan seorang pria yang merayu sang anak perempuan yang memiliki rahasia kacamata.
Masing-masing tokoh memiliki ciri khas dan kemahirannya tersendiri dalam seni bela diri. Ada yang mahir seni bela diri taekwondo, taekkyon, ataupun keterampilan senam. Mereka secara bergantian memainkan seni bela diri sambil memainkan cerita dalam panggung.
Sejumlah adegan yang dimainkan adalah kakek galak yang menyuruh semua anggota keluarga untuk bersih-bersih. Namun mereka tampak bermalas-malasan. Hal itu membuat kakek berang dan anggota keluarga lainnya terpaksa menuruti perintahnya.
Namun sang anak lelaki tiba-tiba saja datang dengan keadaan mabuk dan kembali membuat rumah berantakan. Anggota keluarga lainnya pun akhirnya menghukum sang anak laki-laki itu dengan cara menunjukkan seni bela dirinya.
Adegan lainnya yang juga tak kalah menarik adalah ketika suatu malam rumah mereka kedatangan dua orang pencuri yang gemar bergaya. Pertengkaran dan aksi bela diri pun di keluarkan dalam adegan perkelahian anggota keluarga yang memergoki ulah para pencuri.
Kendati diisi dengan banyak adegan bertengkar dan pertunjukkan seni bela diri, namun para penampil dapat mengemasnya dengan baik sehingga tidak terkesan menakutkan ataupun berbahaya. Mereka tak jarang menyisipkan komedi atau tingkah konyol tak terduga yang mengundang gelak tawa penonton. Perpaduan efek suara dan efek cahaya di atas panggung pun semakin melengkapi pertunjukkan.
Bukan hanya itu, penonton pun dibuat antusias ketika penapil Jump mengundang penonton ke atas panggung. Penonton itu dikarakterkan seolah amat mahir bela diri sehingga mereka kewalahan. Dua orang penonton yang diundang ke atas panggung adalah seorang pria Indonesia dan seorang wanita Korea. Keduanya pun dihadiahi kaos Jump usai membantu memeriahkan pertunjukkan.
Kendati para penampil merupakan warga Korea Selatan, namun hal itu tidak menghalangi kemeriahkan penampilan. Karena mereka meminimalisir penggunaan bahasa verbal dan lebih banyak berdialog dengan gerakan, dan gestur tubuh lainnya. Ketika harus bebicara, para penampil menggunakan bahasa Inggris umum yang mudah dipahami penonton.
Jump pun ditutup dengan penampilan aksi bela diri masing-masing pemain yang diiringi riuh rendah tepuk tangan penonton.
[mel]