Berita

Siswaryudi Heru/net

Politik

Nelayan Tradisional Minta Konverter Gas untuk Melaut Disubsidi

SENIN, 15 DESEMBER 2014 | 15:54 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat nelayan tradisional kesulitan melaut. Dengan sangat terpaksa, dikarenakan tidak mampu membeli BBM untuk bahan bakar melaut, para nelayan tradisional hendak beralih ke gas 3 kilogram sebagai bahan bakar.

"Ketersediaan gas 3 kilogram memang masih memadai di tingkatan nelayan tradisional. Tapi persoalannya sulit memperoleh konverter gas ini agar bisa dipergunakan. Harga konverter sangat tinggi, jutaan rupiah per satuannya," ujar Wakil Ketua Komite Tetap Maritim dan Pesisir Bidang Infrastruktur Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Siswaryudi Heru, kepada Kantor Berita Politik (Senin, 15/12).

Dijelaskan Siswaryudi Heru, nelayan tradisional kini membutuhkan pemerintah memberikan subsidi pengadaan konverter gas tersebut agar terjangkau dan bisa dipergunakan dalam kegiatan melaut.
 

 
"Perlu perhatian dan subsidi pemerintah dalam ketersediaan converter. Selain itu, pemerintah tentu harus menjamin agar tidak berkeliaran spekulan-spekulan gas 3 kilogram di nelayan kecil. Ketersediaan gas 3 kilogram dan konverternya bisa menjadi alternative bahan bakar bagi nelayan," jelas Siswaryudi.
 
Ketua DPP Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Bidang Energi dan Sarana Prasarana Perikanan itu menyampaikan untuk basis nelayan tradisional di Lampung yang berjumlah sekitar 900-an ribu nelayan dan untuk Jawa Timur sebanyak 1 juta 500-an nelayan tradisional sangat membutuhkan konverter gas tersebut.
 
"Belum lagi di daerah-daerah lainnya para nelayan tradisional kita membutuhkan konverter dan jaminan ketersediaan gas 3 kilogram agar bisa melanjutkan kehidupannya melaut," ujar dia.
 
Dibandingkan mempergunakan BBM solar untuk kebutuhan melaut, diakui Siswaryudi Heru, mempergunakan gas 3 kilogram sebagai bahan bakar oleh nelayan tradisional relatif murah dan terjangkau. Sebab, dengan mempergunakan gas 3 kilogram, nelayan bisa mempergunakannya untuk melaut selama 2 hari. Sementara, harga satuan konverter gas di pasaran masih mencapai Rp 4 juta hingga Rp 7 jutaan. Tentu, menurut Siswaryudi, hal itu sangat memberatkan nelayan tradisional.

"Melalui Kadin dan HNSI, kami sudah sampaikan ke pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan juga kami berharap pihak Pertamina dan Pertagas juga Pemerintah berkenan memberikan subsidi konverter gas itu kepada nelayan tradisional," ujar dia.
 
Sebagaimana masyarakat yang baru beralih ke penggunaan gas, lanjut Siswaryudi, nelayan tradisional pun sangat membutuhkan sosialisasi dan penyuluhan penggunaan gas 3 kilogram sebagai bahan bakar alternatif nelayan dalam melaut. Sosialisasi sangat perlu untuk menghindari penggunaan yang salah, atau malah menimbulkan kecelakaan berupa ledakan.

"Jadi, nelayan tradisional pun sangat membutuhkan sosialisasi akan penggunaan gas 3 kilogram itu sebagai bahan bakar kapal motor untuk melaut," pungkasnya.[dem]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

JK Bukan Pelaku Penista Agama

Rabu, 22 April 2026 | 04:11

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Rabu, 22 April 2026 | 03:37

GoSend Rilis Fitur Kode Terima Paket

Rabu, 22 April 2026 | 03:13

Disita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Pejabat Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 | 03:00

Rano Tekankan Integritas CPNS Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 April 2026 | 02:24

Pegawai BUMN Dituntut Tangkal Narasi Negatif terhadap Pemerintah

Rabu, 22 April 2026 | 02:09

Ibrahim Arief Merasa Jadi Kambing Hitam Kasus Chromebook

Rabu, 22 April 2026 | 02:00

Keluarga Nadiem Adukan Dugaan Kejanggalan Kasus Chromebook ke DPR

Rabu, 22 April 2026 | 01:22

Fahira Idris: Perempuan Jadi Tumpuan Indonesia Maju 2045

Rabu, 22 April 2026 | 01:07

Dony Oskaria: Swasembada Pangan Nyata Bukan Hoaks

Rabu, 22 April 2026 | 01:03

Selengkapnya