Berita

Dimyati Natakusuma

Wawancara

WAWANCARA

Dimyati Natakusuma: PPP Masih Mempelajari Apakah Perppu Pilkada Itu Demokratis ...

KAMIS, 11 DESEMBER 2014 | 09:55 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ada sikap menarik dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Djan Faridz mengenai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Pilkada secara langsung.

Senin (8/12), Sekjen PPP Kubu  Djan Faridz, Dimyati Nata­ku­suma mengatakan, partainya ber­beda sikap dengan Partai Golkar versi Aburizal Bakrie terhadap Per­ppu Nomor 1 tahun 2014  me­nge­nai Pilkada secara langsung.

Golkar dan PPP berbeda. Kita punya kajian  sendiri terhadap Perppu itu. Sesuai tidak dengan konstitusi dan UUD 1945,” ujar­nya.


Tapi kemarin, Dimyati Nata­kusuma mengaku, sikap partai­nya belum diputuskan mengenai Perppu Pilkada secara langsung tersebut.

‘’Kami belum bersikap. Kami masih mengkaji dulu secara men­dalam mengenai perppu itu,” kata Dimyati Natakusuma kepada Rakyat Merdeka, yang dihubungi via telepon, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya;


Bagimana sikap PPP yang sesungguhnya?
Perrpu Pilkada secara langsung itu kan sedang dipelajari, masih dikaji. Apalagi kita juga akan  menghadapi Musyawah Kerja Nasional (Mukernas, yang ren­cananya dibuka hari ini).  Jadi sikap kami nanti bisa dilihat setelah selesai Mukernas.

Artinya belum jelas dong?
Soal bagaimana nanti, apakah men­dukung,  apa menolak Per­ppu Pilkada itu nanti diputuskan dalam Mukernas. Nanti hasilnya seperti apa, Mukernas yang akan memutuskan terkait perppu tersebut.

Kalau sikap  Anda sendiri bagaimana?
Belum tahu ya. Lihat nanti saja ya setelah Mukernas.

Menurut Anda, bagaimana mengenai perppu itu?
Perppu pilkada langsung di­buat Susilo Bambang Yudo­yono  saat di akhir masa jaba­tannya sebagai Presiden itu untuk tujuan baik. PPP masih akan me­mper­timbangkan untuk meno­lak atau me­nerima Perppu. Kita akan lihat draftnya sesuai kon­stitusi atau ti­dak atau mena­brak dengan un­dang-undang lainnya.

Kalau PPP mendukung per­ppu, apa tidak dianggap meng­khianati Koalisi Merah Putih (KMP)?
Posisi PPP (kubu Djan Faridz) tidak memiliki ikatan yang solid terhadap keputusan apapapun yang dilakukan KMP.

Posisi kami di KMP fleksibel. Tergantung apakah KMP amar makhruf nahi munkar (mengajak kebaikan, menolak kejahatan) apa tidak.

 Dikabarkan PAN akan ikut Demokrat mendukung Perppu, tanggapan Anda?
Ya, boleh-boleh saja, haknya mereka itu. Boleh saja seperti itu. Silakanlah, kemana saja, sesuai hati nurani. Kalau PPP  amar makhruf nahi munkar saja.

 Maksudnya?
 Kita harus pelajari dulu. Apa­kah nantinya (Perppu) itu pro rakyat atau tidak. Apakah itu demokratis, kon­stitusi dan sesuai Pan­ca­sila.  Perppu itu adalah mem­­pertahankan tujuan kedau­latan Indonesia, NKRI. Nanti kita lihat cocok Pilkada secara lang­sung atau lewat DPRD setelah Mu­kernas PPP.

Apa dibicarakan juga me­ngenai posisi PPP di KMP?
Ya. Kita lihat di Mukernas nan­ti, di situ akan dibahas apa ma­sih di KMP atau beralih ha­luan. Nanti kami akan menen­tu­kan si­kap. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya