Berita

teguh santosa/net

FORUM HAM DUNIA

Kondisi HAM Indonesia Perlihatkan Tanda-tanda Mengkhawatirkan

MINGGU, 30 NOVEMBER 2014 | 15:11 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Tidak salah menilai Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. Selain mampu mengelola keberagaman suku bangsa dan budaya masyarakatnya, Indonesia juga menjadi contoh dari pertemuan harmonis Islam yang merupakan agama mayoritas penduduk dengan gagasan demokrasi yang kerap dianggap lahir dari peradaban Barat yang sekuler.

Keberhasilan itu berdiri di atas pondasi pengakuan dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip HAM universal. Pemerintah dan masyarakat sipil bekerja keras untuk memastikan bahwa tidak ada anggota kelompok masyarkat yang tidak mendapatkan haknya.

Demikian disampaikan Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko, Teguh Santosa, yang menjadi salah seorang pembicara dalam diskusi mengenai universalisme dan spesifitas HAM di Forum HAM Dunia ke-2 yang diselenggarakan di Marrakesh, Maroko (Sabtu, 29/11).


Selain Teguh, pembicara lain dalam diskusi yang dipandu Ketua Forum Digniti HAM Maroko, Abdelali Hamieddine, ini adalah pengamat HAM dari Universitas Hogoromo Jepang, DR. Kei Nakagawa dan peneliti HAM dari Spanyol, Santana Moises.

"Namun begitu bukan berarti tidak ada masalah di lapangan dalam pelaksanaan HAM itu walapun sejauh ini semua pihak memperlihatkan komitmen kuat dalam mengakomidasi dan mengadvokasi HAM di Indonesia," kata Teguh yang juga dosen hubungan internasional FISIP Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini dalam keterangan yang diterima redaksi.

Pada bagian lain Teguh mengatakan, dirinya prihatin karena akhir-akhir ini ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan mengenai pelaksanaan HAM di Indonesia.

Belakangan kerap terjadi kekerasan yang dilakukan aparat keamanan terhadap kelompok masyarakat yang memprotes kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat, seperti kebijakan menaikkan harga BBM.

"Ironis, karena dalam sejumlah kasus, kekerasan oleh aparat itu mendapatkan dukungan dari sebagian masyarakat lain yang mengganggap bahwa protes tersebut membahayakan pemerintahan yang baru mulai berkuasa," ujar Teguh.

Dia berharap pemerintah bisa mengubah pendekatan dalam menangani protes yang telah menewaskan seorang pemuda di Makassar itu.

Hal lain yang disampaikan Teguh berkaitan dengan pembebasan bersyarat Pollycarpus yang terbukti membunuh aktivis HAM Munir pada tahun 2004 lalu. Pollycarpus seharusnya menjalani hukuman 14 tahun.

"Pembebasan Pollycarpus ini menyakiti rasa keadilan masyarakat, dan memunculkan kekhawatiran baru," demikian Teguh. [dem]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya