Berita

ilustrasi/net

Politik

Alasan Kenaikkan Harga BBM Mengada-ada!

SENIN, 17 NOVEMBER 2014 | 22:49 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Alasan kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan Presiden Joko Widodo sangat mengada-ada. Harga BBM dinaikkan saat harga minyak dunia turun ke level terendahnya dalam empat tahun terakhir.

Demikian disampaikan Ketua Presidium Nasional Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Herdi Jayakusuma, dalam keterangannya sesaat lalu (Senin, 17/11). Beberapa jam sebelum berita ini diturunkan, Jokowi menumumkan harga premiun naik menjadi Rp 8.500 per liter dari harga sebelumnya, Rp 6.500.

Sedangkan untuk BBM jenis solar, Jokowi menetapkan harganya naik dari Rp 5.500 menjadi Rp 7500.


Menurut Herdi, alasan mencabut subsidi BBM karena membebani APBN sehingga terjadi defisit APBN juga tak bisa diterima. Pemerintah tidak layak menyalahkan defisit APBN karena beban dari subsidi BBM semata. Penurunan target pendapatan negara yang tidak sebanding dengan kenaikan beban belanja negara juga menjadi penyebab munculnya masalah tersebut.

"Pemerintah menuding bahwa subsidi BBM tidak tepat sasaran karena dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Justru, dampak kenaikan harga BBM akan menimpa pada semua kalangan, terutama menengah ke bawah. Bahkan saat harga BBM belum resmi dinaikkan hampir semua bahan pokok sudah merangkak naik," papar dia.

Mestinya, pemerintah menempuh jalan alternatif untuk mengatasi defisit APBN selain dengan menaikkan harga BBM sebagaimana disarankan antara lain oleh ekonom senior DR.Rizal Ramli dan Ichsanuddin Noorsy. Bukan malah mengakali kenaikkan harga BBM dengan argumentasi mengalihkan sunsidi ke sektor produktif.

"Sikap pemerintah ini menunjukkan bukan hanya pemerintah tak bekerja dengan baik, tapi juga membawa kebutuhan rakyat akan BBM pada persaingan bebas. Jelaslah bahwa Kabinet Kerja tengah dinaungi oleh neolib.[dem]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya